Setelah Beras, Giliran Telur Ayam
Oleh
: Kosih Kosasih, S.Si*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan edisi 30 Juli 2018)
Sudah menjadi
fenomena umum jika harga kebutuhan pokok melambung tinggi pada saat bulan
Ramadan, kemudian pasca lebaran umumnya harga kembali normal. Tetapi ada
fenomena yang berbeda pasca lebaran tahun ini. Seperti yang hangat diberitakan
diberbagai media massa beberapa pekan terakhir, harga sebagian kebutuhan pokok
terutama telur ayam malah terus mengalami kenaikan yang cukup tinggi pasca
lebaran.
Setelah
sebelumnya masyarakat dikejutkan dengan harga beras yang meroket pada awal
tahun 2018 lalu dan menyebabkan Inflasi Jawa Barat hingga mencapai 0,83 persen.
Kali ini masyarakat dikejutkan kembali dengan melambungnya harga telur ayam di
pasaran. Bukan tidak mungkin lonjakan harga telur ayam kali ini pun bisa
memaksa Inflasi tetap tinggi pasca lebaran.
Baca juga : Menyoal Inflasi Jabar di Awal Tahun 2018
Harga telur ayam
di Pasar Tradisional yang biasanya berada pada kisaran Rp 20.000 an, kini
melonjak hingga mencapai Rp 29.000 an per kilogram, bahkan di tingkat warung
eceran sudah mencapai Rp 30.000 per kilogram. Hal ini tentu sangat memberatkan
bagi masyarakat karena telur ayam merupakan salah satu sumber protein hewani
yang paling mudah didapatkan dan gampang diolah untuk memenuhi kebutuhan gizi
tubuh.
Badan Pusat
Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat pada tahun 2017, rata – rata konsumsi untuk
komoditas telur ayam mencapai 2,4 butir per kapita per minggu. Bila harga telur
ayam terus melambung, bisa jadi konsumsi komoditas telur ayam juga ikut menurun.
Mentri
Perdagangan Enggartiasto Lukita mengemukakan, kenaikan harga telur ayam di
sejumlah wilayah pada beberapa waktu terakhir disebabkan oleh melonjaknya harga
pakan ayam petelur. Hal ini terjadi karena sebagian besar komponen bahan baku
untuk pakan ayam adalah impor sehingga harga telur ayam sangat sensitif
terhadap nilai kurs rupiah, dimana saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS masih terdepresiasi.
Sudah menjadi
rantai perdagangan, jika komoditas telur ayam harganya naik, maka dipastikan
komoditas lain yang bahan dasarnya telur ayam juga ikut terpengaruh. Kembali
masyarakat yang harus bijak dalam mengelola keuangan untuk mengatur pengeluaran
terutama kebutuhan bahan pokok.
Baca juga : Menyoal Inflasi di Bulan Ramadan
Pada Januari –
Juni 2018 lalu, BPS mencatat Inflasi Jawa Barat sudah mencapai 2,21 persen,
sedangkan Inflasi selama tahun 2017 sebesar 3,63 persen. Jika harga – harga
kebutuhan pokok terus bergerak liar, bukan tidak mungkin Inflasi tahun 2018
bisa melebihi tahun sebelumnya. Hal ini akan berakibat buruk terhadap daya beli
masyarakat ditengah perekonomian saat ini yang masih kurang bergairah.
Pemerintah harus
segera turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Selain memberi jalan keluar
bagi peternak ayam petelur agar bisa terus berproduksi, masyarakat juga harus
diberikan alternatif lain sebagai pengganti telur ayam untuk memenuhi gizi
tubuh sehingga daya beli masyarakat tidak mutlak tergerus Inflasi.(*)
*Penulis adalah Statistisi Peretama pada BPS Kota Tasikmalaya

situs resmi laga ayam filipina
ReplyDeleteBonus Deposit Pertama 10% / Cashback 5% - 10%
Yuk Gabung Bersama Bolavita Di Website www.bolavita88.com
Untuk Info, Bisa Hubungi Customer Service Kami ( SIAP MELAYANI 24 JAM ) :
WA: +628122222995