#16 Bangkit Dari Tragedi Nol Buku


Bangkit Dari Tragedi Nol Buku
(Sebuah Refleksi Hari Aksara Internasional)

Oleh : Siti Anisah, S.Si*
(Artikel dimuat di koran Radar Cirebon edisi 12 September 2018)

Apakah pernah membaca buku? Terlepas buku apa yang dibacanya, saya yakin setiap orang pasti pernah membaca buku. Pertanyaan selanjutnya apakah pengalaman membaca secara langsung dapat menjadikan membaca sebagai aktivitas yang mengasyikkan sehingga menjadi suatu budaya? Rasa-rasanya kenyataan kondisi saat ini, budaya membaca di Indonesia sudah tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Pada tahun 2005, kata Bapak Taufik Ismail, Indonesia sedang terjangkit  “TRAGEDI NOL BUKU!”. Kondisi ini masih relevan sampai sekarang.

Tragedi nol buku adalah sebuah kejadian yang disebabkan oleh tidak adanya kewajiban membaca, sehingga dikhawatirkan menimbulkan budaya malas membaca. Seburam ini kah daya literasi bangsa kita? Sebelum kita kupas lebih jauh, mari kita liat sejarah literasi negeri kita di masa lampau. Zaman dahulu Indonesia dikenal dengan berbagai macam tulisan keren. Sebagai contoh, Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca tidak kalah saing dibandingkan dengan Kitab Raja-Raja yang ditulis oleh Ferdowsi Tousi dari Iran. Atau Kitab Manik Maya yang ditulis oleh Raden Mas Ngabei Ronggo, yang bercerita tentang perkembangan Islam di Pulau Jawa juga sama, tidak kalah keren.  Selain itu ada kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular dan salah satu baitnya dipakai sebagai semboyan negara berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika”. Ketiga bukti ini menunjukkan bahwa literasi Indonesia kaya raya.
Sayang sekali sayang, hari ini kita sedang terjangkit “TRAGEDI NOL BUKU”. Merujuk hasil Survey UNESCO tahun 2010 yang menyatakan bahwa minat baca orang Indonesia dilihat dari jumlah buku yang diselesaikan adalah 0-1 buku per tahun. Ingat yaPer tahun!! Angka ini tentu saja sangat rendah dibandingkan minat baca rata-rata negara ASEAN yang 2-3 buku per tahun. Bahkan, angka ini terbilang sangat jauh dibandingkan minat baca negara maju, seperti Jepang dengan 10-15 buku per tahun dan USA dengan 20-30 buku per tahun. Sungguh sangat memprihatinkan.

RANGKING MINAT BACA INDONESIA
Menurut hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2012, Indonesia berada pada posisi 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca. Sedangkan skor rata-rata internasional yang telah ditetapkan adalah 500. Data yang lebih mengenaskan, berdasarkan hasil kajian Most Littered Nation In the World 2016, minat baca Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.

Kenyataan ini memperlihatkan betapa rendahnya angka literasi atau minat baca masyarakat Indonesia dan tentunya ini sangat mencemaskan bagi tumbuhkembangnya sebuah Negara untuk menjadi Negara maju. Sehingga pernyataan Taufik  Indonesia sedang dilembah tragedi nol buku ada benarnya.

 Data Sosial BUdaya (SOSBUD) dari Badan Pusat Statistk  yang terintegrasi Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), menyebutkan bahwa pada tahun 2015 persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar/ majalah sebesar 13,11 persen. Nilai ini timpang dibanding persentase penduduk 10 tahun ke atas yang menonton televisi yaitu sebesar 91,47 persen.
Selanjutnya masih dari sumber data yang sama menunjukkan bahwa dalam kurun satu dasawarsa, persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar/ majalah semakin menurun, yaitu pada tahun 2003 sebesar 23,70 persen, tahun 2006 sebesar 23,46 persen, tahun 2009 sebesar 18,94 persen, tahun 2012 sebesar 17,66 persen dan tahun 2015 turun 4,55 point menjadi 13,11 persen. Sebaliknya persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang menonton televisi dalam kurun yang sama terus naik. Kenaikan dari tahun 2003 sampai 2012 sebesar 6,74 poin, dan sedikit menurun pada tahun 2015 yaitu menjadi sebesar 91,47 persen. Hal ini sedikit banyak menunjukan bahwa penduduk 10 tahun ke atas makin banyak meminati televisi dan makin menurun minat bacanya. Berangkat dari realita ini sehingga diperlukan adanya sebuah gerakan nasional untuk menumbuhkan budaya membaca di seluruh lapisan masyarakat.

Dimulai dari struktur terkecil masyarakat bernama keluarga. Diawali dari sejak dini dengan mengenalkan buku pada anak, sehingga menumbuhkan kecintaan akan buku, yang pada akhirnya akan menumbuhkan minat baca anak dan kebiasaan anak untuk membaca. Perlu dimasifkan minimal dalam keluarga kita bahwa membaca buku memiliki banyak sekali manfaat. Untuk anak-anak, membaca bisa bermanfaat untuk menambah kosakata baru, meningkatkan rasa ingin tahu, mengembangkan daya imajinasi anak dan meningkatkan kemampuan mengungkapkan ide.

Apa yang orangtua perlu lakukan? Beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua untuk menumbuhkan minat baca pada anak, terus upayakan agar anak dapat menikmati buku, bukan hanya bisa membaca. Bahkan bisa dibilang lebih penting dibandingkan sekadar bisa membaca. Anak yang lancar membaca namun tak suka membaca, kemungkinan lebih menyukai melakukan hal lain. Seperti bermain games dalam gadget yang menurut peneitian lebih banyak kerugian daripada keuntungannya untuk anak.

Supaya anak suka membaca, perlu dibuat semenyenangkan mungkin saat berinteraksi dengan buku bersama anak. Tunjukkan wajah senang Anda ketika membaca bersama anak. Tidak hanya lewat buku, kita juga bisa memperkenalkan proses membaca dengan menunjukkan berbagai bacaan di sekitar kita, mulai dari plang nama jalan, nama gedung, uang, tulisan di depan ruang dokter, dan di manapun Anda menemukan kata-kata yang dapat dibaca. Namun yang tak kalah penting adalah, mengenalkan proses membaca ini sesuai dengan tahap perkembangan anak. Yang tidak kalah penting, supaya membaca menjadi lebih menyenangkan diterima dalam proses tumbuhkembang anak, maka kenalkanlah apapun manfaat dari membaca, diantaranya Membaca adalah salah satu gerbang mendapatkan pengetahuan baru dan lain sebagainya.
Sebagian orangtua tidak mengetahui membaca dapat meningkatkan kualitas berbahasa yang baik. Kenapa demikian? Karena secara alamiah anak-anak itu awalnya hanya mendengar dan pastinya terekam, dilanjutkan dengan mengucap walaupun kurang tertata. Selanjutnya semakin mahir berbicara bahkan bisa jadi akan diteruskan dengan proses menulis. Oleh karena itu bacakanlah buku atau cerita dengan intonasi yang tepat, agar anak mengenal kata-kata, jarak/spasi antar kata, struktur kalimat, atau pun penggunaan tanda baca. Sesekali kepada anak yang sudah bisa berbicara tanyakan apa yang baru saja dibaca, agar si anak belajar mengungkapkan apa yang diketahuinya.

Perlu diketahui juga membaca adalah proses untuk dapat menikmati dunia imaginatif. Sehingga peran orangtua melibatkan anak dalam memilih buku yang ingin dibacanya, memiilih tempat membaca yang nyaman, seperti anak dipangku atau duduk bersebelahan akan membuat anak nyaman berlama lama membaca. Sehingga daya imajinasi anak akan hadir saat kenyaman ada saat anak membaca.

Pada akhirnya kita berharap jika setiap keluarga Indonesia sudah membudayakan membaca buku didalam keluarganya masing-masing, setiap orangtua sadar dan aktif mendampingi anaknya dalam berinteraksi dengan buku maka perlahan tapi pasti negeri kita akan bangkit dari tragedi nol buku.(*)

*Penulis adalah Statistisi Pertama di BPS Kabupaten Kuningan

Bangkit dari Tragedi Nol Buku


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#16 Bangkit Dari Tragedi Nol Buku"

Post a Comment