Ironi
Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan
Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
“Selama masih ada
kemiskinan di Indonesia, maka kemerdekaan Indonesia dianggap cacat”. Kalimat
tersebut adalah ungkapan dari Prof. Anhar Gonggong, salah seorang sejarawan
Indonesia asal Sulawesi Selatan, ketika ditanya tentang arti kemerdekaan. Apabila
arti kemerdekaan hanya sebatas bebas dari penjajahan fisik dan momentumnya adalah
proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, saya kira setiap orang sepakat.
Namun ketika ditanyakan makna kemerdekaan dari perspektif lainnya, setiap orang
memiliki pandangan yang berbeda. Untuk sebagian orang dengan adanya kemiskinan,
besarnya angka pengangguran, tingginya jumlah putus sekolah, terbatasnya akses
kesehatan, angka kekurangan gizi dan rendahnya upah buruh merupakan salah satu
bentuk penjajahan jaman sekarang.
Tepatnya
73 tahun bangsa Indonesia telah merasakan kemerdekaan, usia yang sangat muda
apabila dibandingkan dengan kemerdekaan di negara-negara Amerika dan Eropa,
namun bukan waktu yang sebentar apabila lamanya kemerdekaan bangsa Indonesia
dibandingkan negara-negara di ASEAN, bahkan negara paling lama merasakan
kemerdekaan dibandingkan negara lainnya. Namun berdasarkan data yang dirilis
oleh IMF per Oktober 2017, pendapatan perkapita negara Indonesia menduduki
peringkat lima, setelah negara Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan
Thailand.
Baca juga : 73 Tahun, Indonesia Makin Bertumbuh
Seiring
dengan perkembangan waktu, persepsi masyarakat dalam memaknai kemerdekaan bukan
lagi hanya sebatas kemerdekaan penjajahan fisik saja, namun lebih kepada kualitas
kemerdekaan itu sendiri. Salah satunya adalah kemerdekaan masyarakat dari
belenggu kebodohan dan kemiskinan.
Isu
kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi setiap pemerintahan
di seluruh negara, tidak terkecuali di Indonesia. Selain sebagai indikator keberhasilan
suatu pemerintahan, pengentasan kemiskinan juga sebagai amanat dalam menjalankan
cita-cita luhur founding father
bangsa ini, yaitu menciptakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun faktanya masih ada sebagian masyarakat di Indonesia yang tingkat
kesejahteraannya masih dibawah standar kelayakan pada umumnya. Penyebabnya
diantaranya faktor kultural atau budaya miskin, karena kebijakan pemerintah
maupun disebabkan keterbatasan atau terisolasinya seseorang untuk mengakses
sumber daya. Kemiskinan struktural dan terisolasinya seseorang terhadap akses modal
merupakan hal yang paling berpengaruh terhadap perubahan angka kemiskinan
pedesaan.
Angka
Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan
Badan
Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Barat merilis angka penduduk miskin bulan
Maret sebesar 3.615,79 ribu jiwa, mengalami penurunan sebesar 158,62 ribu
jiwa dibandingkan bulan September 2017. Apabila dibedakan berdasarkan
stratifikasi wilayah, pada bulan Maret 2018 jumlah penduduk miskin di perkotaan
sebesar 2.327 ribu jiwa, sedangkan di pedesaan sebesar 1.287 ribu jiwa. Namun
secara persentase, jumlah penduduk miskin di pedesaan cukup tinggi yaitu
sebesar 10,25% , sedangkan di perkotaan sebesar 6,47%.
Baca juga : Tingkat Kemiskinan di Jawa Barat
Selain
memahami jumlah penduduk miskin, hal penting lainnya yang perlu diketahui
adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan itu sendiri. Indeks kedalaman
dan Indeks keparahan kemiskinan bulan Maret 2018 mengalami penurunan
dibandingkan dengan September 2017. Artinya rata-rata pengeluaran penduduk
miskin ada perbaikan, mendekati Garis Kemiskinan (GK), dan kesenjangan
pengeluaran antara penduduk miskin juga menyempit. Namun dibandingkan antara
perkotaan dan pedesaan, baik Indeks kedalaman maupun Indeks keparahan
kemiskinan di pedesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Melihat dari
indikator-indikator tersebut, tentunya pemerintah harus memberikan perhatian
khusus tentang kebijakan pengentasan kemiskinan di pedesaan.
Karakteristik
Kemiskinan Pedesaan
Mengatasi
masalah kemiskinan pedesaan, tentunya harus disesuaikan dengan karakteristik
yang melekat di pedesaan. Ketergantungan terhadap sektor pertanian dengan
pendapatan kecil, rata-rata pendidikan rendah, dan kesulitan geografis
merupakan beberapa ciri dari wilayah pedesaan. Oleh karena itu, fokus
pemerintah dalam pengentasan kemiskinan di pedesaan harus bisa mengakomodir
permasalahan tersebut.
Karakteristik
dari wilayah pedesaan tidak lepas dari struktur ekonomi maupun tenaga kerja
yang melekat di wilayah tersebut. Pada tahun 2016, nilai PDRB sektor pertanian
propinsi Jawa Barat berdasarkan harga konstan sebesar 98.181.660,7 juta rupiah,
walaupun bukan yang terbesar namun, sektor pertanian masih menjadi penopang
struktur PDRB secara keseluruhan. Dilihat dari sisi komposisi tenaga kerja pada
bulan Februari 2018, sebanyak 3,2 juta orang atau 15,28 persen penduduk di Jawa
Barat masih bergantung pada sektor pertanian. Struktur tenaga kerja di sektor
pertanian ini adalah ketiga terbesar setelah sektor perdagangan (22,79 %) dan
sektor industri pengolahan (21,47%). Permasalahannya adalah sebagian besar
penduduk yang bekerja di sektor pertanian merupakan petani gurem (75%) dan
sebagai buruh tani yang identik dengan penduduk miskin.
Baca juga : Ironi Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan
Meningkatnya
jumlah petani gurem, salah satu permasalahan yang belum terselesaikan hingga
saat ini. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan pertanian
menyebabkan petani gurem terus bertambah, imbasnya sebagian masyarakat yang
tidak memiliki lahan pertanian menjadi buruh tani. Selanjutnya karena
karakteristik sektor pertanian bersifat musiman, tidak semua buruh tani
tertampung di sektor ini, sisanya menjadi buruh kasar di pedesaan sebagian lagi
bermigrasi ke wilayah perkotaan sebagai buruh di sektor industri. Permasalahan
baru tercipta di wilayah perkotaan, kedatangan penduduk migran yang berasal
dari pedesaan, bermodalkan pendidikan seadanya, minim keterampilan, sehingga produktivitasnya
rendah, pendapatannya pun rendah. Akhirnya akan menambah angka kemiskinan di
perkotaan.
Menyediakan
lapangan kerja di pedesaan merupakan masalah dasar permasalahan kemiskinan
pedesaan. Apabila sektor pertanian tidak mampu lagi untuk menampung angkatan
kerja yang ada dipedesaan, karena keterbasan lahan, maka salah satu solusi
untuk mengurangi pengangguran pedesaan adalah dengan membangun industri
berbasis pertanian. Industrialisasi pertanian, merupakan hal yang penting untuk
dilakukan. Selain untuk menyerap tenaga kerja pedesaan, industrialisasi juga
bisa membuat usaha tani lebih efisien karena tersedianya faktor-faktor produksi
yang lebih murah, misalnya dengan penyediaan pupuk yang murah. Karakteristik
sektor industri yang membutuhkan bahan mentah atau bahan setengah jadi dalam
proses produksinya, hal ini bisa dimanfaatkan oleh sektor pertanian sebagai
pemasok bahan bakunya sehingga keberlangsungan usaha sektor pertanian dapat
bertahan.
Selain
terbatasnya lapangan kerja di pedesaan, kondisi infrastruktur yang buruk ikut
andil banyaknya angka kemiskinan di pedesaan. Infrastruktur transportasi
merupakan infrastruktur dasar yang sangat penting sebagai sarana pengangkutan
yang berperan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, karena ketersediaan jalan
akan meminimalkan modal komplementer sehingga proses produksi dan distribusi akan lebih efisien. Pembangunan
prasarana jalan akan meningkatkan pertumbuhan wilayah-wilayah baru dengan
meningkatnya volume lalu lintas. Sebaliknya, prasarana jalan yang buruk dan
rusak akan menghambat alokasi sumber daya, pengembangan industri,
pendistribusian faktor produksi, barang dan jasa, yang pada akhirnya akan mempengaruhi
pendapatan.
Berdasarkan
survei Potensi Desa (PODES) yang dilakukan BPS, telah disusun Indeks Kesulitan
Geografis (IKG) untuk seluruh wilayah hingga tingkat desa. Indeks ini disusun
berdasarkan ketersediaan pelayanan dasar, kondisi infrastruktur dan
aksesbilitas/transportasi. Berikut tabel IKG beberapa kabupaten/ kota sekitar
priangan timur.
Kabupaten
|
IKG Desa
|
||
Terendah
|
Nilai Tengah
|
Tertinggi
|
|
Garut
|
17,23
|
35,07
|
63,00
|
Kabupaten
Tasikmalaya
|
14,97
|
30,97
|
55,89
|
Kota
Tasikmalaya
|
-
|
-
|
-
|
Pangandaran
|
18,95
|
33,44
|
58,49
|
Kota
Banjar
|
24,64
|
28,09
|
34,85
|
Ciamis
|
15,80
|
32,35
|
49,55
|
Majalengka
|
10,53
|
32,63
|
48,22
|
Kuningan
|
12,40
|
36,62
|
58,20
|
Sumedang
|
16,13
|
33,37
|
55,79
|
IKG
ini merupakan indeks komposit yang mempunyai skala 0 (nol) hingga 100
(seratus), semakin tinggi angka indeks, semakin tinggi kesulitan geografis
suatu wilayah. Berdasarkan cakupan propinsi, IKG terendah ada di desa Palimanan
Timur (Kab.Cirebon) yaitu 9,42 dan tertinggi di desa Karyabakti (Kab.Cianjur)
dengan nilai 82,37.
Pembangunan
infrastruktur yang baik, tidak hanya berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi
pedesaan, namun peran strategisnya bisa memutuskan lingkaran kemiskinan (vicious circle of poverty) di pedesaan. Dengan mudahnya
aksesibilitas/transportasi maka warga di pedesaan akan lebih mudah untuk
mengakses layanan publik, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, dan
pusat-pusat perekonomian. Sehingga kualitas SDM-nya meningkat, dilihat dari
keterampilan, keahlian maupun kesehatannya, maka produktivitasnya juga tinggi,
dengan produktivitas yang tinggi, pendapatannya pun akan besar, dengan budget yang besar akan meningkatkan
tingkat konsumsinya dan pada akhirnya penduduk tersebut keluar dari Garis
Kemiskinan (GK) sebagai batasan ukuran kemiskinan.
Perdebatan
tentang jumlah penduduk miskin, akan selalu ada dalam perjalanannya. Namun yang
lebih penting adalah bagaimana semua pihak duduk bersama dalam satu pemikiran
untuk mencari cara agar permasalahan kemiskinan dapat diselesaikan secara
tuntas bukan lagi bersifat parsial. Termasuk tentang kemiskinan di pedesaan. Kompleksitas
permasalahan kemiskinan pedesaan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemberian
bantuan uang tunai atau bagi-bagi sembako saja. Dalam kondisi tertentu,
program-program tersebut perlu untuk dilakukan misalnya untuk tujuan mengurangi
tingkat keparahan kemiskinan. Namun dalam catatan, hal tersebut bukan solusi
permanen. Lebih dari itu pembangunan infrastruktur seperti jalan, sarana
pendidikan, dan sarana kesehatan merupakan upaya pengentasan kemiskinan
mendasar untuk memutus penduduk miskin pedesaan dari lingkaran kemiskinan.***
*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kabupaten Tasikmalaya


0 Response to "#19 Ironi Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan"
Post a Comment