Konsumsi Rokok vs Kemiskinan
Oleh : Kosih Kosasih, S.Si*
(Artikel dimuat di Koran Kabar Priangan edisi 9 Januari 2018)
Sejauh ini belum
ada penelitian yang menyatakan bahwa semakin banyak mengkonsumsi rokok dapat
menyebabkan kemiskinan. Hasil Riset yang dilakukan oleh Institute National of Health
Research and Development Ministry of Health Indonesia menyatakan bahwa
konsumsi rokok yang meningkat makin memperberat beban penyakit dan bertambahnya
angka kematian akibat rokok.
Kerugian makro
ekonomi akibat konsumsi rokok di Indonesia tahun 2015 mencapai hampir Rp. 600
Triliun atau empat kali lipat lebih dari jumlah cukai rokok pada tahun yang
sama. Kerugian ini meningkat 63 persen dibanding kerugian dua tahun sebelumnya.
Selain penyakit,
dampak ekonomi dari merokok menyebabkan dampak buruk terhadap masyarakat karena
kematian “prematur”, produktivitas yang hilang dan beban keuangan yang
ditanggung oleh perokok dan keluarganya, Penyedia Jasa Kesehatan, Layanan
Asuransi dan Perusahaan pemberi Kerja.
Meningkatnya
jumlah perokok aktif dikalangan generasi muda akan membahayakan kualitas
generasi mendatang dan mempengaruhi kualitas bonus demografi yang diharapkan
terjadi di Indonesia, karena Nikotin pada tembakau bersifat adiktif. Belanja
tembakau pada tingkat rumah tangga mengalahkan semua prioritas belanja
keperluan lainnya, termasuk keperluan makanan bergizi dan pendidikan anak.
Situasi ini dapat melanggengkan atau memperburuk tingkat sosial – ekonomi
keluarga miskin. (dikutip dari berita www.kompas.com edisi Jum’at 5 Januari 2018).
Sementara itu,
berdasarkan Berita Resmi Statistik No. 05/01/Th. XXI, 2 Januari 2018 peranan
komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan di Indonesia jauh lebih besar
dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan,
dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan
(GK) pada September 2017 tercatat sebesar 73,35 persen. Ironisnya komoditi
Rokok memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (9,98 persen di perkotaan
dan 10,70 persen di perdesaan) dibandingkan dengan komoditi makanan lainnya
yang lebih bergizi.
Kondisi di Jawa
Barat pun sama, berdasarkan Berita Resmi Statistik No. 05/01/32/Th. XX, 2
Januari 2018 hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) September 2017
menyatakan, peranan komoditi makanan terhadap GK sangat dominan dibandingkan
peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).
Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat pada tingkat ekonomi rendah
lebih didominasi pengeluaran untuk kebutuhan makanan dibandingkan kebutuhan
bukan makanan. Sumbangan GKM terhadap GK sebesar 70,63 persen untuk daerah
perkotaan. Sedangkan di daerah perdesaan sebesar 75,10 persen. Dan yang
mengagetkan adalah komoditi Rokok tetap memberikan sumbangan terbesar kedua
terhadap GK (9,82 persen di perkotaan dan 9,45 persen di perdesaan)
dibandingkan dengan komoditi makanan lainnya.
Baca juga : Tingkat Kemiskinan di Jawa Barat
Bagaimana
kondisi di Kota Tasikmalaya? Berdasarkan Buku Publikasi Statistik Kesejahteraan
Kota Tasikmalaya yang dirilis pada 2 Januari 2018 menyatakan, persentase
penduduk 15 tahun keatas yang merokok sebesar 32,79 persen dengan rata – rata
jumlah rokok yang dihisap sebanyak 62,85 batang per minggu. Hal ini
mengakibatkan konsumsi rokok masuk kedalam 5 komoditi terbesar yang dikonsumsi
penduduk Kota Tasikmalaya yaitu sebesar 5,58 persen dari total rata – rata
pengeluaran. Ironisnya pada kelompok ekonomi rendah persentase penduduk 15
tahun keatas yang merokok sebesar 31,92 persen dengan rata – rata jumlah rokok
yang dihisap sebanyak 42,75 batang per minggu.
Jika melihat
pengeluaran komoditi rokok pada kelompok ekonomi atas memang nilainya lebih
besar daripada kelompok ekonomi rendah, akan tetapi rasio terhadap total rata –
rata pengeluaran per kapita perbulan cukup kecil yaitu sekitar 3 persen.
Berbeda dengan kelompok masyarakat ekonomi rendah, walaupun nilai pengeluaran
untuk rokok lebih kecil, tetapi rasio terhadap total rata – rata pengeluaran
per kapita per bulan cukup besar yaitu sekitar 7 persen. Nilai ini jauh lebih
besar daripada rasio pengeluaran untuk komoditi sayuran, daging dan telur yang
hanya dibawah 3 persen.
Hal ini bisa
berdampak negatif khususnya untuk kelompok ekonomi rendah, besarnya kontribusi
nilai pengeluaran rokok dapat mengakibatkan kerugian pada pola kesehatan
masyarakat sehingga bukan lagi untuk membeli kebutuhan makan sebagai kebutuhan
dasar tetapi pendapatan digunakan untuk menanggung beban kesehatan karena
terserang penyakit akibat mengkonsumsi rokok.
Selain beresiko
terkena penyakit, konsumsi rokok dapat mempengaruhi kesejahteraan sosial
masyarakat miskin dan menambah beban bagi pemerintah sebab pemerintah harus
mengeluarkan dana untuk meng-cover
kesehatan masyarakat miskin yang sebetulnya penyakit tersebut dapat dicegah.
Komitmen
Pemerintah dan Masyarakat sangat dibutuhkan untuk menurunkan konsumsi tembakau,
mengurangi beban ekonomi dan kesehatan akibat penyakit yang diakibatkan rokok
serta mencegah kematian prematur. Pemerintah pun harus mengajak kepada
masyarakat untuk mulai mengalihkan pengeluaran rokok kepada pengeluaran makanan
yang lebih bergizi, sehingga pola konsumsi masyarakat menjadi beragam.
*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kota Tasikmalaya

0 Response to "#6 Konsumsi Rokok vs Kemiskinan"
Post a Comment