#17 Menakar Potensi Pemuda di Zaman “Now”

Menakar Potensi Pemuda di Zaman “Now”


Menakar Potensi Pemuda di Zaman “Now”

Oleh : Kosih Kosasih, S.Si*

Hari sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan tonggak sejarah bangsa bagaimana dasyatnya kekuatan pemuda pada masa penjajahan untuk bersatu padu demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan diraih, peran pemuda selalu dibutuhkan untuk mengisi pembangunan di berbagai bidang, bukan lagi dengan mengangkat senjata tetapi bertransformasi melalui inovasi dan kreatifitas.

Kemajuan bangsa Indonesia sejatinya ada pada setiap pundak pemudanya, sehingga kualitas pemuda saat ini menjadi kunci apakah bangsa Indonesia akan maju atau biasa saja dimasa yang akan datang. Pertanyaannya, bagaimanakah potret pemuda Indonesia saat ini?
Menurut Undang – Undang no. 40 tahun 2009, pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 16 hingga 30 tahun yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2017, setidaknya ada sekitar 63,36 juta jiwa pemuda, angka ini hampir sama dengan seperempat dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari seperempatnya pemuda Indonesia berada di pulau Jawa (55,32 persen). Selain itu, wilayah perkotaan masih mendominasi penyebaran jumlah pemuda, persentasenya mencapai 25,22 persen bila dibandingkan dengan jumlah pemuda yang berada di perdesaan yaitu sebesar 23,19 persen. Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin, jumlah pemuda laki – laki ternyata lebih banyak daripada pemuda perempuan, rasionya mencapai 102,36, artinya pada setiap 102 pemuda laki – laki terdapat 100 pemuda perempuan.

Tingkat pendidikan dan kesehatan merupakan sebagian indikator yang dapat menggambarkan kualitas pemuda saat ini. Pada tahun 2017, hampir semua pemuda bisa membaca dan menulis. Jika dilihat dari angka partisipasi sekolah (APS), semakin tinggi usia pemuda maka persentase APS nya pada setiap kelompok umur semakin menurun. Yaitu, kelompok umur 16 – 18 tahun (71,42 persen), 19 – 24 tahun (24,77 persen), dan 25 – 30 tahun (2,93 persen).

Selain itu, BPS mencatat rata – rata lama sekolah (RLS) pemuda Indonesia mencapai 10,21 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa pendidikan pemuda Indonesia rata – rata setara dengan kelas 1 di Sekolah Menengah. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara pendidikan pemuda laki – laki dengan pemuda perempuan, artinya semua pemuda mempunyai kesempatan yang sama dalam pendidikan. Tetapi bila dilihat berdasarkan wilayah, RLS pemuda di perkotaan angkanya lebih tinggi bila dibandingkan wilayah perdesaan, yaitu 10,88 tahun berbanding 9,38 tahun.
Bila dilihat dari rentang usia berdasarkan UU no. 40 tahun 2009, maka tidak salah bila generasi muda saat ini lebih akrab disebut generasi milenial atau generasi Y. Menurut para pakar, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 hingga 2000 an. Generasi milenial terlahir disaat internet serta teknologi terbaru sudah diperkenalkan, sehingga pemuda saat ini diharapkan bisa mengikuti perkembangan zaman serta lebih melek teknologi.

Data BPS menunjukkan, pada tahun 2017, lebih dari separuh pemuda mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Semakin tinggi usia pemuda tingkat penetrasi internet semakin rendah, yaitu kelompok umur 16 – 18 tahun sebesar 72,86 persen, disusul kelompok umur 19 – 24 tahun 67,63 tahun, serta kelompok umur 25 – 30 tahun sebesar 54,17 persen. Dari beberapa fasilitas, telepon seluler atau smart phone menjadi alat paling banyak digunakan untuk mengakses internet, angkanya mencapai 93,42 persen.

Selain tingkat pendidikan, tingkat kesehatan juga memengaruhi kualitas pemuda Indonesia. Indikator yang dapat mengukur tingkat kesehatan diantaranya adalah angka kesakitan (keluhan kesehatan yang menyebabkan aktivitas sehari – hari terganggu) dan rata – rata lama sakit. Semakin tinggi angka kedua indikator ini maka kualitas kesehatan pemuda Indonesia semakin memburuk.

Pada tahun 2017, BPS mencatat sebanyak 18,53 persen pemuda Indonesia pernah mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dengan angka kesakitan pemuda sebesar 8,11 persen. Artinya sekitar 19 dari 100 pemuda pernah mengalami keluhan kesehatan dengan jumlah pemuda yang sakit sekitar 8 orang. Selain itu, sebanyak 62,31 persen pemuda mengalami sakit selama 1 – 3 hari dan 28,97 persen mengalami sakit selama 4 – 7 hari. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda tidak mengalami sakit yang cukup parah sehingga proses penyembuhan tidak terlalu lama.

Kondisi kesehatan yang cukup baik ternyata berbeda dengan kebiasaan merokok dari pemuda Indonesia. BPS mencatat, 1 dari 4 pemuda Indonesia adalah perokok, dimana hampir separuh pemuda laki – laki merokok dalam sebulan terakhir. Batang rokok yang dihisap pun lumayan banyak, jumlahnya meningkat seiring peningkatan umur pemuda. Dari setiap kelompok umur pemuda, rata – rata paling banyak menghisap rokok sebanyak 7 – 12 batang sehari dengan persentase paling tinggi terdapat pada kelompok umur 25 – 30 tahun, yaitu 40,51 persen.
Pendidikan dan kesehatan menjadi modal penting bagi pemuda Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. BPS mencatat, pada tahun 2017, sebanyak 51,47 persen atau lebih dari separuh pemuda Indonesia terlibat dalam kegiatan ekonomi, dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pemuda mencapai 59,86 persen.

Pemuda dengan tamatan Sekolah Menengah mendominasi jumlah pemuda yang bekerja, angkanya mencapai 42,40 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sekitar 42 dari 100 pemuda yang bekerja sudah menamatkan pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah. Sedangkan pemuda yang bekerja dengan tamatan perguruan tinggi hanya sebesar 14,30 persen. Jika dilihat berdasarkan struktur lapangan usaha, sektor jasa (perdagangan, transportasi, lembaga keuangan dan jasa kemasyarakatan) adalah paling banyak menyerap tenaga kerja pemuda, angkanya mencapai 52,89 persen, disusul sektor manufaktur (26,32 persen) serta sektor pertanian (20,79 persen). Selain itu, jenis pekerjaan utama pemuda Indonesia paling banyak bekerja sebagai pekerja kasar dan tenaga kebersihan (22,04 persen), kemudian diikuti tenaga usaha jasa dan tenaga penjualan (18,27 persen), tenaga usaha pertanian dan peternakan (14,75 persen) serta tenaga pengolahan dan kerajinan (12,18 persen).
Dari sejumlah data diatas, tentunya ini harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah terlebih saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi dimana jumlah usia produktif (15 – 64 tahun) lebih besar dibandingkan usia non produktif (dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun). Jika tidak bisa memanfaatkan kondisi ini, maka bonus demografi hanya akan menjadi goresan emas dalam lembar sejarah yang tidak berarti. Oleh karena itu, Pemerintah diharapkan terus meningkatkan program pendidikan dan kesehatan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas dan sehat.(*)


*Penulis adalah Statistisi pada BPS Kota Tasikmalaya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#17 Menakar Potensi Pemuda di Zaman “Now” "

Post a Comment