#11 Menakar Sektor Pertanian di Jawa Barat


Menakar Sektor Pertanian di Jawa Barat

Oleh : Kosih Kosasih, S.Si*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan edisi 3 Juni 2018)

Sektor pertanian masih menjadi salah satu sektor utama yang berperan penting pada perekonomian di Jawa Barat, diantaranya sebagai sumber penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Lahan pertanian yang luas menjadikan Jawa Barat sebagai salah satu wilayah penghasil beberapa komoditas pertanian cukup besar secara nasional, diantaranya tanaman pangan, hortikultura dan peternakan.

Perkembangan zaman dari tahun ke tahun tidak bisa lagi terelakkan. Hal ini ditandai dengan datangnya revolusi industri gelombang keempat atau disebut industri 4.0. Industri 4.0 adalah tren terbaru dibidang teknologi yang berpengaruh besar terhadap proses produksi khususnya pada sektor manufaktur. Hal ini tentu akan “mengancam” terhadap sektor pertanian yang ada di Jawa Barat.

Pertumbuhan Ekonomi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Jawa Barat sepanjang tahun 2017 tumbuh sebesar 5,29 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Informasi dan Komunikasi, yaitu sebesar 11,85 persen. Kemudian disusul oleh Jasa Lainnya sebesar 9,78 persen dan Real Estate sebesar 9,31 persen.

Walaupun sektor pertanian sepanjang tahun 2017 hanya mengalami pertumbuhan sebesar 1,88 persen, akan tetapi sektor pertanian masih menempati salah satu dari tiga lapangan usaha yang mendominasi struktur perekonomian di Jawa Barat selain sektor Industri dan Perdagangan, yaitu sebesar 8,60 persen.
Namun demikian, hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah. Sebab jika melihat angka laju pertumbuhan ekonomi triwulanan, sepanjang tahun 2017 sektor pertanian terus mengalami kontraksi atau menurun. Salah satu penurunan laju pertumbuhan sektor pertanian yang cukup besar terjadi pada triwulan ke empat 2017, yaitu 36,40 persen. Sehingga secara umum memengaruhi terhadap ekonomi Jawa Barat yang mengalami kontraksi sebesar minus 0,81 persen.

Tenaga Kerja
Dominasi sektor pertanian terhadap ekonomi Jawa Barat dapat terlihat dari kemampuan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja. BPS mencatat pada Agustus 2017, dari jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 20,55 juta orang, 3,08 juta orang diantaranya bekerja di sektor pertanian. Walaupun jumlah penyerapannya dibawah sektor Perdagangan, Industri dan Jasa, tetapi dari tahun ke tahun sektor pertanian selalu menjadi salah satu penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat.

Berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan, jumlah pengangguran terbanyak ada pada jenjang pendidikan menengah, yaitu SMP 9,68 persen, SMA 10,03, SMK 16,80 persen. Sedangkan tingkat pengangguran terendah ada di jenjang pendidikan dasar kebawah, yaitu sebesar 4,30 persen. Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan yang rendah membuat orang cenderung mau bekerja pada sektor apapun termasuk pertanian. Namun, semakin tinggi pendidikan yang ditamatkan, faktanya mereka cenderung memilih pada sektor yang lebih besar penghasilannya.
Bila ditelisik lebih dalam, dibandingkan bulan Agustus 2016, jumlah tenaga kerja pada Agustus 2017 mengalami kenaikan pada hampir seluruh sektor usaha kecuali sektor pertanian. Peningkatan jumlah tenaga kerja terbanyak ada pada sektor perdagangan, sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi serta sektor lainnya. Sedangkan sektor pertanian mengalami penurunan dari 3,16 juta menjadi 3,08 juta atau berkurang sebanyak 72 ribu orang (2,28 persen). Lebih jauh lagi jika dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya, jumlah pekerja pada sektor pertanian trennya cenderung terus mengalami penurunan.

Hal ini harus dapat segera diantisipasi, jangan – jangan sektor pertanian sudah tidak diminati lagi oleh pekerja seiring kemajuan zaman, tingkat pendidikan, teknologi dan lain sebagainya. Faktanya sekarang banyak anak muda yang “enggan” bekerja pada sektor pertanian, mereka lebih tertarik bekerja pada sektor industri, perdagangan dan lain – lain. Salah satu alasannya adalah, bekerja di sektor pertanian identik dengan kemiskinan. Sehigga sektor pertanian yang digeluti oleh orang tuannya tidak memiliki pewaris.

Kemiskinan
Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat pada September 2017 mencapai 3,774 juta jiwa atau 7,83 persen. Terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sekitar 394 ribu jiwa dibandingkan Maret 2017. Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2017 – September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan maupun di perdesaan turun masing – masing sebesar 197,39 ribu dan 196,63 ribu jiwa. Sehingga persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 7,52 persen menjadi 6,76 persen. Sedangkan di perdesaan turun dari 11,75 persen menjadi 10,77 persen. Jika dilihat berdasarkan daerah, jumlah penduduk miskin di perdesaan masih tergolong tinggi.

Lebih jauh lagi jika dilihat dari jenis pekerjaan yang dimiliki oleh penduduk miskin di Jawa Barat. Sebanyak 49,62 persen tidak bekerja, 15,68 persen bekerja pada sektor pertanian, sedangkan 34,70 persen bekerja diluar sektor pertanian. Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa lebih dari 31 persen dari total penduduk miskin yang memiliki pekerjaan, mereka bekerja pada sektor pertanian. Dengan kata lain, penduduk miskin di Jawa Barat mayoritas adalah petani. Tingkat kemiskinan di perdesaan yang masih tinggi menjadikan daerah perdesaan menjadi kantong – kantong kemiskinan yang harus segera dibenahi.

Akselerasi pembangunan pada sektor pertanian harus segera dilakukan, agar sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Selain itu, produktivitas hasil pertanian harus ditingkatkan agar nilai tukar petani (NTP) terus meningkat. Hal ini akan berakibat terhadap kenaikan pendapatan petani, imbasnya daya beli petani pun bisa ikut naik.
Untuk melakukan akselerasi pembangunan pada sektor pertanian, pemerintah tentu memerlukan data pertanian yang komprehensif. Menurut jumlah rumah tangga, diperlukan data populasi rumah tangga yang mengusahakan sektor pertanian. Selain itu, diperlukan data populasi komoditas pertanian yang ada pada saat ini termasuk populasi ternak.

Untuk memenuhi kebutuhan data tersebut, pada Mei – Juni 2018 ini BPS akan menyelenggarakan kegiatan lapangan survei pertanian antar sensus (SUTAS) sebelum dilaksanakan sensus pertanian (SP) tahun 2023. Kegiatan SUTAS dilaksanakan di seluruh kabupaten/ kota di Jawa Barat. Hasil SUTAS2018 dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan fenomena perubahan usaha pertanian pada saat ini dibandingkan hasil Sensus Pertanian tahun 2013 (SP2013).

Kedapan, pemerintah diharapkan dapat membuat regulasi yang berkelanjutan pada sektor pertanian, terutama membangun regenerasi petani. Sehingga sektor pertanian dapat menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja serta terus memberikan andil yang besar terhadap perekonomian di Jawa Barat. Disamping itu, dengan regulasi dan strategi yang baik diharapkan kesejahteraan petani dapat lebih ditingkatkan lagi.(*)

*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kota Tasikmalaya

Menakar Sektor Pertanian di Jawa Barat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#11 Menakar Sektor Pertanian di Jawa Barat"

Post a Comment