Menyoal Inflasi Jabar
di Awal Tahun 2018
Oleh : Kosih Kosasih, S.Si*
(Artikel dimuat
di Koran Kabar Priangan edisi 6 Februari 2018)
Awal
tahun 2018 lalu masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Barat diramaikan dengan
pemberitaan mengenai harga beras di pasaran yang mengalami kenaikan cukup
tinggi, sehingga menjadi perbincangan “panas” diberbagai media cetak maupun
elektronik. Akibatnya, hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam
survei Harga Konsumen (HK), Inflasi Jabar pada bulan Januari sebesar 0,83
persen dimana sekitar 0,4 persen dipengaruhi oleh kenaikan harga beras. Inflasi
pada Januari 2018 ini merupakan inflasi terbesar dibanding bulan Januari tahun
– tahun sebelumnya sejak kurun waktu 2015.
Berdasarkan
Berita Resmi Statistik No. 06/02/32/Th. XX, 1 Februari 2018 pada bulan Januari Jawa
Barat mengalami inflasi sebesar 0,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar
129,94. Dengan demikian laju inflasi tahun kalender “year to date” (Januari
2018) sebesar 0,83 persen dan laju inflasi dari tahun ke tahun “year on year”
(Januari 2017 - Januari 2018) sebesar 3,69 persen. Angka ini diperoleh dari perhitungan IHK di 7 (tujuh)
Kota di Jabar, yaitu Bekasi, Depok, Bogor, Sukabumi, Bandung, Cirebon dan
Tasikmalaya.
Menurut BPS,
inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung
secara terus menerus. Inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata
uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Inflasi atau deflasi dihitung
berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks ini menghitung rata-rata
perubahan harga dari suatu paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah
tangga dalam kurun waktu tertentu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu
menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari
barang dan jasa.
Dari
tujuh kelompok pengeluaran, yang mengalami inflasi tertinggi yaitu Kelompok
Sandang sebesar 5,44 persen, Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau
sebesar 5,29 persen, Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga sebesar 5,09
persen, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar sebesar 3,40
persen, Kelompok Bahan Makanan sebesar 3,37 persen, Kelompok Kesehatan sebesar
3,22 persen, dan Kelompok Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 2,30
persen.
Baca juga : Menyoal Inflasi di Bulan Ramadan
Hasil
pemantauan harga barang dan jasa selama Januari 2018 tercatat beberapa
komoditas mengalami kenaikan/penurunan harga dan memberikan andil
inflasi/deflasi cukup siginifikan. Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan
memberikan andil inflasi antara lain beras,
daging ayam ras, cabe rawit, cabe
merah, ayam goreng, mie, upah pembantu rumah tangga, bensin, emas perhiasan.
Sementara
komoditas yang mengalami penurunan dan memberikan andil deflasi signifikan antara
lain bawang merah, tarif kereta api,
angkutan udara, telur ayam ras, pisang, jagung manis, makanan ringan, semen.
Bila
dilihat menurut andilnya terhadap inflasi/deflasi Januari 2018, enam kelompok
pengeluaran yang memberikan andil inflasi tertinggi yaitu, Kelompok Bahan Makanan
sebesar 0,60 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau
sebesar 0,11 persen; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar
sebesar 0,06 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,04 persen; Kelompok Kesehatan sebesar
0,01 persen; Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga sebesar 0,01 persen;
Sementara satu kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi diberikan
oleh Kelompok Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,01persen.
Walupun
mengalami pro dan kontra, kebijakan impor beras diharapkan mampu mengendalikan
tingkat harga beras menjadi normal kembali, karena sejauh ini beras merupakan
salah satu pengeluaran yang cukup besar pada kelompok makanan serta penyumbang
tingkat inflasi yang cukup signifikan di Jawa Barat.
Baca juga : Setelah Beras, Giliran Telur Ayam
Selain
itu, untuk mengendalikan inflasi, pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi
Daerah (TPID)-nya diharapkan dapat melakukan operasi pasar secara intensif pada
komoditas – komoditas yang mengalami kenaikan harga cukuf signifikan terutama
harga bahan pokok. Dengan begitu tingkat Inflasi dapat dikendalikan dan daya
beli masyarakat dapat terjaga.

0 Response to "#8 Menyoal Inflasi Jabar di Awal Tahun 2018"
Post a Comment