#20 Mengawal Anak Di Era Digital

Mengawal Anak Di Era Digital



Mengawal Anak Di Era Digital

Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)

Tepat pada tanggal 8 Juli 1976, satelit pertama Indonesia yang diberi nama ‘Palapa’ berhasil diluncurkan di Samudera Hindia tepatnya di landasan Tanjung Canavera. Peristiwa ini menjadi momentum berkembangnya era teknologi yang terjadi di Indonesia, salah satunya ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan komunikasi yang berkembang dengan pesat. Dalam bulan yang sama berbeda tahun, diperingati juga sebagai Hari Anak Nasional (HAN) yang intinya bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia, selain itu untuk merenungkan langkah-langkah agar mewujudkan dunia anak yang lebih baik lagi.

Beberapa bulan terakhir, kita dihebohkan dengan viralnya seorang anak berusia 13 tahun dengan menggunakan aplikasi media sosial, yang awal bulan Juli ini sempat diblokir pemerintah. Menurut Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, alasan diblokirnya aplikasi tersebut adalah memuat konten pornografi, pelecehan agama dan pelanggaran lainnya. Sebelumnya ramai diberitakan ada dua orang anak di Jawa Timur yang kecanduan gadget (gawai), ketika smartphone diambil dari keduanya, anak-anak tersebut marah dengan membanting benda disekitarnya bahkan menyakiti diri sendiri dan pada akhirnya mereka dirawat salah satu RSUD Jiwa di Bondowoso, Jawa Timur. Apabila melihat kejadian tersebut, ada keterkaitan antara perkembangan teknologi dengan perubahan perilaku anak baik positif maupun negatif.
Gadget (gawai) merupakan salah satu produk teknologi yang perkembangannya sangat cepat dibandingkan dengan lainnya. Tidak ada catatan yang pasti mengenai jumlah pengguna ponsel di Indonesia, namun berdasarkan Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), secara nasional persentase penduduk Indonesia yang mengakses internet usia 5 tahun ke atas terus meningkat. Tahun 2012 pengguna internet sebesar 14,70 persen, meningkat di tahun 2016 menjadi 25,37 persen.

Sihir gadget ini terus bergerak tanpa mengenal batasan waktu, tempat, dan status sosial. Kondisi ini mempengaruhi juga terhadap perubahan perilaku dan interaksi sosial, tidak terkecuali terhadap pola interaksi di lingkungan keluarga. Bagi anda yang menghabiskan masa kecil era 1980-an hingga 1990-an, pola interaksi di lingkungan keluarga hampir tidak ada sekat sama sekali, beberapa kegiatan yang dilakukan bersama dengan anggota keluarga misalnya makan, menonton tv atau sekedar bercengkrama dan bermain. Setelah ada gadget tidak sedikit keluarga yang berada dalam satu ruangan tapi asyik dengan gadget masing-masing, sehingga peranan komunikasi yang mempererat hubungan antar keluarga semakin berkurang. Apabila kondisinya seperti demikian, yang mengalami dampak terburuk adalah sosok anak dalam keluarga tersebut dibandingkan dengan orang dewasa lainnya.

Gangguan Kesehatan Anak

Dampak penggunaan gadget yang berlebihan tentunya akan berpengaruh terhadap kesehatan seseorang, baik itu dewasa maupun anak-anak. Bagian tubuh yang rentan mengalami keluhan kesehatan adalah organ mata, hal ini wajar karena organ ini berhubungan langsung dengan layar pada gadget. Menurut penelitian, keluhan kesehatan ini bisa berkali lipat lagi dampaknya apabila terjadi pada anak dibawah 9 tahun, hal ini disebabkan fungsi organ matanya belum  matang sehingga tidak menutup kemungkinan anak akan menderita rabun jauh(myopia). Penelitian di Korea Selatan, yang dipublikasikan melalui jurnal kesehatan BC Opthalmology, ditemukan bahwa anak yang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk berinteraksi dengan smartphone, lalu jarang melakukan aktivitas di luar ruangan, cenderung lebih mudah terkena penyakit mata kering. Pasalnya, saat menatap layar smartphone, gadget, komputer atau sejenisnya, kedipan mata otomatis berkurang. Karena kedipan tersebut berkurang, lapisan air mata jadi lebih mudah menguap dan rentan membuat mata kering. Selain gangguan mata, penggunaan gadget dapat memicu risiko gangguan pendengaran pada anak. Setidaknya begitu hasil studi terbaru dari tim peneliti Erasmus University, Belanda. Lebih dari 3.000 anak dengan rentang usia 9 hingga 11 tahun menjadi objek penelitian dari 2012 hingga 2015. Peneliti menyimpulkan, anak-anak yang biasa mendengarkan musik dari smartphone dan tablet memiliki risiko tiga kali lipat lebih besar mengalami gangguan pendengaran frekuensi tinggi.

 Gangguan Psikologi Anak

Apabila dibandingkan dengan keluhan yang bersifat fisik, keluhan kejiwaan (psikis) pada anak pada umumnya tidak bisa dideteksi secara dini, bahkan orang tua sebagai keluarga terdekat sekali pun. Psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro, Jakarta, menegaskan gadget dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila anak yang sudah mulai kecanduan gawai akan terbiasa mendapatkan kesenangan dengan pola satu arah, mereka lebih suka bermain sendiri menggunakan gawai ketimbang bermain bersama teman-temannya. Berbeda lagi pendapat psikolog anak, Anna Surti Arian, bahwa kecanduan anak terhadap gadget akan menurunkan tingkat kebahagiaan anak, karena kebahagiaannya hanya sebatas pada gadget saja. Sehingga anak menjadi mudah emosional, hal ini dapat dilihat ketika baterai gadget tersebut habis atau tidak mendapat sinyal maka anak akan cenderung marah. Dalam kondisi perkembangan nalar anak belum sempurna, maka apa yang dilihat dan didengar anak bisa jadi menjadi sebuah kebenaran atau hal yang lumrah bagi anak. Tanpa pendampingan orang tua, anak yang sedang bermain dengan gadget baik sedang menonton video atau bermain game yang terdapat konten pornografi atau adegan kekerasan, maka akan direspon oleh anak bahwa itu merupakan hal yang biasa dalam kehidupan nyata.

            Gadget sebagai salah satu produk teknologi tentu tidak saja selalu berdampak buruk untuk anak. Dengan memanfaatkan gadget anak bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan sesuai dengan apa yang dibutuhkannya, sejak dini anak-anak bisa dikenalkan dengan teknologi, memudahkan komunikasi, anak lebih mudah untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan yang lainnya dengan memanfaatkan media sosial. Oleh karena itu, tidaklah tepat dalam kondisi sekarang ini, anak sepenuhnya dijauhkan dari gadget. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengawasi dan mengatur penggunaan gadget pada anak.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

            Hal ini sangat penting sekali, karena banyak kasus orang yang mengenalkan gadget pertama kali kepada anak adalah orang tua. Alasan yang biasa dilontarkan biasanya karena orang tua sibuk ketika mengerjakan sesuatu, solusi instan dengan memberikan anak gadget supaya mengganggu, hasilnya sangat efektif. Kemudian pola ini terus berulang, sehingga ketika anak sudah kecanduan dan ketika suatu saat orang tua menjauhkan gadget dari anaknya maka perilaku yang muncul adalah ledakan emosi, menangis, menjerit (tantrum) pada anak. Dalam kondisi seperti ini, karena orang tua tidak mau pusing dengan rengekan si anak, maka gadget menjadi solusinya.
            Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan oleh orang tua adalah kesepakatan bersama seluruh anggota keluarga. Pertama adalah menentukan batas usia anak untuk dikenalkan atau diberikan fasilitas gadget. Menurut lembaga riset Influence Central, di Amerika Serikat rata-rata anak punya ponsel pertamanya di usia 10 tahun, dan trennya akan semakin muda karena banyak orangtua yang lelah dengan rengekan anaknya minta ponsel. Pencipta Microsoft, Bill Gates, baru memberikan ponsel untuk ketiga anaknya saat mereka berusia 14 tahun. Menurutnya banyak manfaat positif jika anak tidak memiliki ponsel di usia dini. "Dengan membuat batasan waktu menatap layar komputer atau ponsel, anak-anak jadi bisa tidur pada jam yang sesuai. Memang tidak ada batasan yang jelas batasan usia anak diperbolehkan menggunakan gadget, namun menurut pakar psikolog anak, ketika anak sudah bisa cukup dewasa dan bertangung jawab, anak bisa diberikan fasilitas gadget. Kedua, yaitu kesepakan berapa lama anak menggunakan gadget perhari. Menurut pakar kepengasuhan Australia Justin Coulson Anak berusia lima sampai 12 tahun dianjurkan hanya mengakses gawai maksimum dua jam sehari. Ketiga, adalah peran aktif orang tua untuk mengalihkan perhatian anak agar tidak terjadi kecanduan anak terhadap gadget.Perbanyak aktivitas menyenangkan bersama anak. Misalnya menggambar atau mewarnai buku, menemani anak mengerjakan PR, bermain diluar, meminta anak untuk bercerita tentang kegiatan kesehariannya, atau pun sebaliknya orang tua membacakan buku cerita.

Sebenarnya masih banyak alternatif solusi agar anak tidak kecanduan gadget, namun yang terpenting adalah komitmen orang tua menyepakati aturan dan memberikan contoh pada anak. Misalnya, semua anggota keluarga dilarang membawa ponsel ketika di meja makan, tapi justru orang tua yang melanggar dengan alasan menunggu telepon penting dari atasan atau rekan kerja. 

            Kita sebagai orang tua, tentunya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita. Era serba digital sekarang ini, tentunya berbeda dengan apa yang kita alami ketika masih kecil dan kondisi ini tidak bisa dihindari. Walaupun demikian, masa anak-anak kita dengan eranya anak jaman digital menginginkan suasana yang sama, yaitu suasan aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak.***

*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kabupaten Tasikmalaya


Mengawal Anak Di Era Digital

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#20 Mengawal Anak Di Era Digital"

Post a Comment