Mengawal
Anak Di Era Digital
Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)
Tepat
pada tanggal 8 Juli 1976, satelit pertama Indonesia yang diberi nama ‘Palapa’
berhasil diluncurkan di Samudera Hindia tepatnya di landasan Tanjung Canavera.
Peristiwa ini menjadi momentum berkembangnya era teknologi yang terjadi di
Indonesia, salah satunya ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan yang
bergerak di bidang teknologi dan komunikasi yang berkembang dengan pesat. Dalam
bulan yang sama berbeda tahun, diperingati juga sebagai Hari Anak Nasional
(HAN) yang intinya bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia, selain
itu untuk merenungkan langkah-langkah agar mewujudkan dunia anak yang lebih
baik lagi.
Beberapa
bulan terakhir, kita dihebohkan dengan viralnya
seorang anak berusia 13 tahun dengan menggunakan aplikasi media sosial, yang
awal bulan Juli ini sempat diblokir pemerintah. Menurut Dirjen Aplikasi
Informatika Kominfo, alasan diblokirnya aplikasi tersebut adalah memuat konten
pornografi, pelecehan agama dan pelanggaran lainnya. Sebelumnya ramai
diberitakan ada dua orang anak di Jawa Timur yang kecanduan gadget (gawai), ketika smartphone diambil dari keduanya,
anak-anak tersebut marah dengan membanting benda disekitarnya bahkan menyakiti
diri sendiri dan pada akhirnya mereka dirawat salah satu RSUD Jiwa di
Bondowoso, Jawa Timur. Apabila melihat kejadian tersebut, ada keterkaitan
antara perkembangan teknologi dengan perubahan perilaku anak baik positif
maupun negatif.
Baca juga : Menakar Potensi Pemuda di Zaman “Now”
Gadget
(gawai) merupakan salah satu produk teknologi yang perkembangannya sangat cepat
dibandingkan dengan lainnya. Tidak ada catatan yang pasti mengenai jumlah
pengguna ponsel di Indonesia, namun berdasarkan Lembaga riset digital marketing
Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia
lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi
negara dengan pengguna aktif smartphone
terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Berdasarkan Badan
Pusat Statistik (BPS), secara nasional persentase penduduk Indonesia yang
mengakses internet usia 5 tahun ke atas terus meningkat. Tahun 2012 pengguna
internet sebesar 14,70 persen, meningkat di tahun 2016 menjadi 25,37 persen.
Sihir
gadget ini terus bergerak tanpa
mengenal batasan waktu, tempat, dan status sosial. Kondisi ini mempengaruhi
juga terhadap perubahan perilaku dan interaksi sosial, tidak terkecuali
terhadap pola interaksi di lingkungan keluarga. Bagi anda yang menghabiskan
masa kecil era 1980-an hingga 1990-an, pola interaksi di lingkungan keluarga
hampir tidak ada sekat sama sekali, beberapa kegiatan yang dilakukan bersama
dengan anggota keluarga misalnya makan, menonton tv atau sekedar bercengkrama
dan bermain. Setelah ada gadget tidak
sedikit keluarga yang berada dalam satu ruangan tapi asyik dengan gadget masing-masing, sehingga peranan
komunikasi yang mempererat hubungan antar keluarga semakin berkurang. Apabila
kondisinya seperti demikian, yang mengalami dampak terburuk adalah sosok anak
dalam keluarga tersebut dibandingkan dengan orang dewasa lainnya.
Gangguan
Kesehatan Anak
Dampak
penggunaan gadget yang berlebihan tentunya akan berpengaruh terhadap kesehatan
seseorang, baik itu dewasa maupun anak-anak. Bagian tubuh yang rentan mengalami
keluhan kesehatan adalah organ mata, hal ini wajar karena organ ini berhubungan
langsung dengan layar pada gadget. Menurut penelitian, keluhan kesehatan ini
bisa berkali lipat lagi dampaknya apabila terjadi pada anak dibawah 9 tahun,
hal ini disebabkan fungsi organ matanya belum
matang sehingga tidak menutup kemungkinan anak akan menderita rabun
jauh(myopia). Penelitian di Korea
Selatan, yang dipublikasikan melalui jurnal kesehatan BC Opthalmology,
ditemukan bahwa anak yang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk berinteraksi
dengan smartphone, lalu jarang
melakukan aktivitas di luar ruangan, cenderung lebih mudah terkena penyakit
mata kering. Pasalnya, saat menatap layar smartphone,
gadget, komputer atau sejenisnya, kedipan mata otomatis berkurang. Karena
kedipan tersebut berkurang, lapisan air mata jadi lebih mudah menguap dan
rentan membuat mata kering. Selain gangguan mata, penggunaan gadget dapat memicu risiko gangguan
pendengaran pada anak. Setidaknya begitu hasil studi terbaru dari tim peneliti
Erasmus University, Belanda. Lebih dari 3.000 anak dengan rentang usia 9 hingga
11 tahun menjadi objek penelitian dari 2012 hingga 2015. Peneliti menyimpulkan,
anak-anak yang biasa mendengarkan musik dari smartphone dan tablet memiliki risiko tiga kali lipat lebih besar
mengalami gangguan pendengaran frekuensi tinggi.
Gangguan
Psikologi Anak
Apabila
dibandingkan dengan keluhan yang bersifat fisik, keluhan kejiwaan (psikis) pada
anak pada umumnya tidak bisa dideteksi secara dini, bahkan orang tua sebagai
keluarga terdekat sekali pun. Psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro,
Jakarta, menegaskan gadget dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila anak yang sudah mulai
kecanduan gawai akan terbiasa mendapatkan kesenangan dengan pola satu arah, mereka
lebih suka bermain sendiri menggunakan gawai ketimbang bermain bersama
teman-temannya. Berbeda lagi pendapat psikolog anak, Anna Surti Arian, bahwa kecanduan
anak terhadap gadget akan menurunkan tingkat kebahagiaan anak, karena
kebahagiaannya hanya sebatas pada gadget saja. Sehingga anak menjadi mudah
emosional, hal ini dapat dilihat ketika baterai gadget tersebut habis atau
tidak mendapat sinyal maka anak akan cenderung marah. Dalam kondisi
perkembangan nalar anak belum sempurna, maka apa yang dilihat dan didengar anak
bisa jadi menjadi sebuah kebenaran atau hal yang lumrah bagi anak. Tanpa
pendampingan orang tua, anak yang sedang bermain dengan gadget baik sedang menonton video atau bermain game yang terdapat
konten pornografi atau adegan kekerasan, maka akan direspon oleh anak bahwa itu
merupakan hal yang biasa dalam kehidupan nyata.
Gadget sebagai salah
satu produk teknologi tentu tidak saja selalu berdampak buruk untuk anak.
Dengan memanfaatkan gadget anak bisa
mendapatkan informasi dan pengetahuan sesuai dengan apa yang dibutuhkannya,
sejak dini anak-anak bisa dikenalkan dengan teknologi, memudahkan komunikasi,
anak lebih mudah untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan yang lainnya dengan
memanfaatkan media sosial. Oleh karena itu, tidaklah tepat dalam kondisi
sekarang ini, anak sepenuhnya dijauhkan dari gadget. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengawasi dan
mengatur penggunaan gadget pada anak.
Peran
Orang Tua dan Lingkungan
Hal
ini sangat penting sekali, karena banyak kasus orang yang mengenalkan gadget pertama kali kepada anak adalah
orang tua. Alasan yang biasa dilontarkan biasanya karena orang tua sibuk ketika
mengerjakan sesuatu, solusi instan
dengan memberikan anak gadget supaya mengganggu, hasilnya sangat efektif.
Kemudian pola ini terus berulang, sehingga ketika anak sudah kecanduan dan ketika
suatu saat orang tua menjauhkan gadget dari anaknya maka perilaku yang muncul
adalah ledakan emosi, menangis, menjerit (tantrum)
pada anak. Dalam kondisi seperti ini, karena orang tua tidak mau pusing dengan
rengekan si anak, maka gadget menjadi solusinya.
Baca juga : Ironi Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan
Oleh
karena itu, langkah pertama yang dilakukan oleh orang tua adalah kesepakatan
bersama seluruh anggota keluarga. Pertama adalah menentukan batas usia anak
untuk dikenalkan atau diberikan fasilitas gadget. Menurut lembaga riset
Influence Central, di Amerika Serikat rata-rata anak punya ponsel pertamanya di
usia 10 tahun, dan trennya akan semakin muda karena banyak orangtua yang lelah
dengan rengekan anaknya minta ponsel. Pencipta Microsoft, Bill Gates, baru
memberikan ponsel untuk ketiga anaknya saat mereka berusia 14 tahun. Menurutnya
banyak manfaat positif jika anak tidak memiliki ponsel di usia dini.
"Dengan membuat batasan waktu menatap layar komputer atau ponsel,
anak-anak jadi bisa tidur pada jam yang sesuai. Memang tidak ada batasan yang
jelas batasan usia anak diperbolehkan menggunakan gadget, namun menurut pakar
psikolog anak, ketika anak sudah bisa cukup dewasa dan bertangung jawab, anak bisa
diberikan fasilitas gadget. Kedua, yaitu kesepakan berapa lama anak menggunakan
gadget perhari. Menurut pakar
kepengasuhan Australia Justin Coulson Anak berusia lima sampai 12 tahun
dianjurkan hanya mengakses gawai maksimum dua jam sehari. Ketiga, adalah peran
aktif orang tua untuk mengalihkan perhatian anak agar tidak terjadi kecanduan
anak terhadap gadget.Perbanyak
aktivitas menyenangkan bersama anak. Misalnya menggambar atau mewarnai buku,
menemani anak mengerjakan PR, bermain diluar, meminta anak untuk bercerita
tentang kegiatan kesehariannya, atau pun sebaliknya orang tua membacakan buku
cerita.
Sebenarnya
masih banyak alternatif solusi agar anak tidak kecanduan gadget, namun yang
terpenting adalah komitmen orang tua menyepakati aturan dan memberikan contoh
pada anak. Misalnya, semua anggota keluarga dilarang membawa ponsel ketika di
meja makan, tapi justru orang tua yang melanggar dengan alasan menunggu telepon
penting dari atasan atau rekan kerja.
Kita sebagai orang tua, tentunya menginginkan yang
terbaik untuk anak-anak kita. Era serba digital sekarang ini, tentunya berbeda
dengan apa yang kita alami ketika masih kecil dan kondisi ini tidak bisa
dihindari. Walaupun demikian, masa anak-anak kita dengan eranya anak jaman
digital menginginkan suasana yang sama, yaitu suasan aman, nyaman dan
menyenangkan bagi anak.***


0 Response to "#20 Mengawal Anak Di Era Digital"
Post a Comment