Pandemi telah berlangsung hampir 2 tahun, banyak perubahan- perubahan yang terjadi, termasuk berubahnya pola pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Jika sebelumnya orang tua bisa dengan tenang menyerahkan proses pendidikan anaknya pada lembaga yang bernama sekolah, maka pada masa pandemi ini orang tua dituntut menjadi pemeran pendamping utama dalam prosesnya.
Ada yang siap, tapi banyak juga yang gagap. Banyak dari kita merasa bingung, apa yang harus dilakukan, harus bagaimana mengatur waktu dan lain sebagainya. Tantangan lebih besar dihadapi para orang tua yang kurang melek teknologi, atau bahkan tidak punya akses internet. Beban mereka menjadi berlipat-lipat, karena selain harus mengerjakan pekerjaan pokok, mereka juga harus mendampingi anak belajar, tekanan ini turut meningkatkan angka kekerasan pada anak.
Study yang dilakukan oleh lembaga nirlaba Save Children (2020), menunjukkan satu dari 5 orang tua melakukan pengasuhan secara negatif, bentuknya berupa teriakan, kekerasan fisik dan lebih agresif terhadap anak. (Kompas.com)
Hal diatas sebetulnya tak perlu terjadi, jika orang tua paham akan peran nya. Ada banyak pola pengasuhan positif yang bisa diterapkan ayah bunda, salah satunya adalah Fitrah Based Education (FBE) atau Pendidikan Berbasis Fitrah yang digagas oleh Ustadz Harry Santosa. Dalam pendidikan berbasis fitrah, kita tak hanya diajak untuk mengembangkan fitrah anak, tapi juga membangun fitrah keayahbundaan.
FBE mengajak orang tua untuk memahami 8 jenis perkembangan fitrah dalam diri setiap anak, fitrah keimanan, fitrah belajar dan bernalar, fitrah seksual, fitrah jasmani, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah bahasa dan estetika, fitrah berkembang dan fitrah bakat. Tak seperti konsep barat yang menganggap usia emas hanya ada pada fase 0-5 tahun, dalam FBE setiap fitrah mempunyai usia emasnya sendiri. Seperti usia emas untuk fitrah keimanan adalah antara 0-6 tahun, masa emas fitrah belajar 7-14 tahun dan seterusnya. Dengan memahami konsep ini orang tua jadi tidak tergesa-gesa dalam mendidik anak-anaknya dan bisa lebih fokus untuk melejitkan fitrah pada setiap tahapannya.
FBE meletakan rumah dan orangtua sebagai basis pendidikan anak, sementara sekolah dijadikan sebagai salah satu partner yang dapat dipilih untuk melengkapinya. Artinya ada banyak pilihan lain untuk melengkapi pendidikan anak selain sekolah. Peran ayah dan bunda sangat penting, masing-masing mempunyai porsi tersendiri, ayah Adalah Man of Mission and Vision, pembangun profesionalisme, mensuplai maskulinitas, membangun struktur berpikir dan rasionalitas, mensuplai ego, sang raja tega dan penanggung jawab sekaligus konsultan pendidikan.
Sedangkan ibu adalah pembangun rasa dan harmoni, Person of love and sincerity mensuplai sifat feminin, pembasuh luka, pemilik moralitas dan nurani, berbasis pengorbanan dan pelaku harian pendidikan. Peran ini saling melengkapi dan tak bisa digantikan.
Bulan ini anak-anak memasuki tahun ajaran baru, namun kepastian akan proses pendidikan di sekolah belum juga kita dapatkan, sampai dengan bulan Juni lalu ratusan anak usia sekolah di Kab. Sukabumi dinyatakan terpapar covid-19 (radarsukabumi.com). Bagaimana jika ternyata anak-anak masih harus tetap belajar dari rumah? Kalaupun sudah ada izin untuk belajar tatap muka, apakah kita sudah siap dengan segala konsekuensinya?
Sebagai seorang ibu, saya menyadari betul, bahwa perubahan yang sangat cepat akibat pandemi ini membawa tekanan tersendiri bagi kondisi mental kita, alih-alih menyalahkan kondisi yang terjadi saat ini, memutar roda kemudi dengan menyambut kembali peran sejati orang tua sebagai pendidik utama anak-anak akan membuat kita lebih bahagia, rileks dan optimis walaupun di masa krisis.
Untuk kembali menerapkan rumah sebagai lembaga pendidikan utama, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.
Pertama kita bisa merubah cara pandang kita tentang belajar. Belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, belajar tak mesti di sekolah, belajar tak harus duduk di belakang bangku dengan setumpuk buku, kita bisa memindahkan ruang belajar ke dapur, kebun, pinggir sungai atau kemanapun. Ada banyak hal yang bisa anak pelajari disana, matematika, sains, bahasa, sejarah, bahkan fitrah keimanan anak pun disa digali disana.
Kedua, tak perlu mengejar target akademik, yang harus kita lakukan saat ini adalah menjaga fitrah belajar anak tetap tumbuh, menjaga rasa ingin tahu mereka, melatih pola berpikir ilmiah dengan mengajak mereka melakukan berbagai macam percobaan sederhana, manfaatkan semua yang ada di rumah untuk melakukannya, tak perlu mengada-ada jika memang tak sanggup melakukannya, yang penting adalah niat kemudian lakukan. Mengajak mereka mengobrol dengan menghadirkan tokoh atau teman dengan profesi tertentu juga akan membuat hari-hari anak menyenangkan dan kaya akan pengalaman.
Ketiga, manfaatkan masa pandemi ini sebagai masa untuk menanamkan pendidikan karakter. Tanggung jawab, disiplin, kejujuran, membangun percaya diri anak, menumbuhkan empati, dan semua bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan baik untuk anak maupun ibu, dengan cara yang ibu dan anak suka.
Bersinergi dengan ayah, hadir sepenuhnya, memakai kacamata fitrah dalam menilai, niat yang kuat, aktif mendengar anak dan kreatif merupakan kunci agar kita bisa tetap bahagia. Pandemi adalah ujian yang mengembalikan fitrah kita sebagai orang tua, pandemi tak bisa dielakkan, tapi bahagia, rileks dan optimis di masa ini adalah pilihan, Saya percaya kita semua bisa, karena kita adalah orangtua versi terbaik untuk anak-anak kita.
Fanny Yulia Puspitasari
Praktisi Pendidikan Berbasis Fitrah
Mahasiswi Kampus Ibu Pembaharu Institut Ibu Profesional
Member Ibu Profesional Region Sukabumi
Member HEbAT Jabar Raya
0 Response to "Menjadi Orang tua Rileks dan Optimis di Masa Krisis"
Post a Comment