#7 Tingkat Kemiskinan di Jawa Barat


Tingkat Kemiskinan di Jawa Barat

Oleh : Kosih Kosasih, S.Si
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan edisi 15 Januari 2018)

Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang selalu menjadi perhatian Pemerintah, baik tingkat Pusat maupun daerah. Sudah banyak program pemerintah yang digulirkan dengan dana yang cukup besar, tujuannya agar tingkat kemiskinan dapat diturunkan.

Dalam melakukan pengukuran indikator Kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar, dimana Kemiskinan dipandang sebagai ketidak mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Sehingga yang dimaksud Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata – rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan (GK).

Untuk mengukur sejauh mana tingkat kemiskinan suatu daerah, pada tahun 2017 Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) sebanyak dua kali, pelaksanaannya yaitu bulan Maret dan September.

Dikutip dari Berita Resmi Statistik No. 05/01/32/Th. XX, 2 Januari 2018, Jumlah Penduduk Miskin di Jawa Barat pada September tahun 2017 mencapai 3.774.000 jiwa atau 7,83 persen. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 394.000 jiwa atau sebesar 0,88 persen dibandingkan pada bulan Maret tahun 2017.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2017 – September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan maupun di perdesaan turun masing-masing sebesar 197.390 jiwa dan 196.630 jiwa. Persentase kemiskinan di perkotaan pun turun dari 7,52 persen menjadi 6,76 persen, begitu juga di perdesaan turun dari 11,75 persen menjadi 10,77 persen.
Menurut kepala BPS Jawa Barat, Dody Herlando, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan tingkat kemiskinan di Jawa Barat selama periode Maret – September 2017. Diantaranya karena meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2017 menjadi 105,98 dari sebelumnya 102,37 per Maret 2017, naiknya rata – rata upah buruh pekerja bebas pertanian dan Industri pengolahan pada kondisi Februari – Agustus 2017.

Kemudian, angka Inflasi periode April – September 2017 yang lebih terkendali dibandingkan Oktober 2016 – Maret 2017, serta angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang turun dari 8,49 persen pada Februari 2017 menjadi 8,22 persen per Agustus 2017 (Pikiran Rakyat Rabu, 3 Januari 2017).

Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai batas untuk mengelompokkan penduduk miskin atau tidak miskin. Selama Maret 2017 – September 2017, Garis Kemiskinan (GK) naik sebesar 2,98 persen yaitu dari Rp. 344.427,- per kapita per bulan pada Maret 2017 menjadi Rp. 354.679,- per kapita per bulan pada September 2017. Apabila dilihat berdasarkan tipologi daerah, GK perdesaan kenaikannya lebih tinggi yaitu sebesar 3,34 persen dari Rp. 341.682,- per kapita per bulan pada Maret 2017 menjadi Rp. 353.103,- per kapita per bulan pada September 2017. Sedangkan GK perkotaan mengalami kenaikan sebesar 2,81 persen dari Rp. 345.151,- per kapita per bulan menjadi Rp. 354.866,- per kapita per bulan.

Garis Kemiskinan terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Pada September 2017 GKM di Jawa Barat sebesar Rp. 254.799,- per kapita per bulan dan GKNM sebesar Rp. 99.879,- per kapita per bulan. Bila dibandingkan antara perkotaan dan perdesaan, GKM di perdesaan lebih tinggi daripada GKM di perkotaan yaitu masing – masing sebesar Rp. 265.183,- dan Rp. 250.654,-. Tetapi sebaliknya, untuk GKNM di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan yaitu Rp. 104.212,- per kapita per bulan di perkotaan sedangkan di perdesaan mencapai Rp. 87.921,- per kapita per bulan.

Peranan komoditi makanan terhadap GK sangat dominan dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (seperti : perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan). Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat pada tingkat ekonomi rendah lebih didominasi pengeluaran untuk kebutuhan makanan dibandingkan kebutuhan bukan makanan. Sumbangan GKM terhadap GK sebesar 70,63 persen untuk daerah perkotaan, sedangkan di daerah perdesaan sebesar 75,10 persen. Secara total peranan komoditi makanan terhadap GK adalah sebesar 71,84 persen.

Pada September 2017, lima komoditi makanan penyumbang terbesar GK di daerah perkotaan adalah beras sebesar 22,10 persen, rokok kretek filter 9,82 persen, daging sapi 4,34 persen, daging ayam ras 4,17 persen dan telur ayam ras sebesar 3,94 persen. Sedangkan lima komoditi bukan makanan penyumbang terbesar terhadap GK di daerah perdesaan masing – masing yaitu beras sebesar 27,06 persen, rokok kretek filter 9,45 persen, telur ayam ras 4,30 persen, daging ayam ras 2,90 persen dan roti sebesar 2,62 persen.
Komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar terhadap GK di daerah perkotaan adalah Perumahan sebesar 9,33 persen, Bensin 4,89 persen, Listrik 3,57 persen, Pendidikan 2,12 persen dan Angkutan sebesar 1,26 persen. Sedangkan lima komoditi bukan makanan penyumbang terbesar terhadap GK di daerah perdesaan masing – masing Perumahan sebesar 9,41 persen, Bensin 2,85 persen, Listrik 1,99 persen, Perlengkapan mandi 1,21 persen dan Pendidikan sebesar 1,07 persen.

*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kota Tasikmalaya

Tingkat Kemiskinan di Jawa Barat


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#7 Tingkat Kemiskinan di Jawa Barat"

Post a Comment