Menyoal Inflasi di
Bulan Ramadan
Oleh : Kosih Kosasih, S.Si *
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan edisi 6 Juni 2017)
Sudah menjadi fenomena umum
dari tahun ke tahun di bulan Ramadhan harga kebutuhan pokok merangkak naik. Hal ini sering diartikan oleh ahli ekonomi dengan istilah inflasi. Pada bulan ini masyarakat
muslim berpuasa dan diimbau untuk mengendalikan hawa nafsu, tetapi mengapa
justru tingkat konsumsi kebutuhan pokok malah meningkat? Salah satu penyebabnya
adalah kebiasaan masyarakat muslim yang lebih konsumtif pada bulan Ramadhan, terutama dalam pemenuhan
kebutuhan bahan makanan.
Apa itu
inflasi
?
Sebagian besar masyarakat sering menghadapi
istilah inflasi. Ketika kita ke
pasar dan merasakan kenaikan harga pada hari ini dibandingkan dengan harga
kemarin, maka berarti kita sudah merasakan apa yang disebut dengan inflasi.
Menurut teori ekonomi makro Inflasi
adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang
berlangsung secara terus menerus. Jika
inflasi meningkat, maka harga barang dan jasa di suatu daerah mengalami
kenaikan. Naiknya harga barang dan
jasa tersebut menyebabkan turunnya
nilai mata uang. Dengan demikian, inflasi
dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata
uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.
Fenomena pada bulan Ramadhan
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya mengeluarkan data inflasi setiap bulannya sebagai
salah satu indikator penting dalam memantau pergerakan perekonomian di
Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh BPS Kota Tasikmalaya, inflasi terjadi hampir setiap tahun pada bulan ramadhan. Di
Kota Tasikmalaya selama tiga tahun terakhir
inflasi pada bulan Ramadhan terjadi cukup signifikan. Data di tahun 2016 menunjukkan inflasi mencapai 0,75 % pada bulan Ramadhan yang jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya hanya mencapai 0,44 %. Begitu juga dengan kondisi di tahun 2015 dimana inflasi pada bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Juni mencapai 0,72 % naik dari 0,21 % dari inflasi di bulan Mei. Kondisi yang sama juga terjadi
pada tahun 2014 dan tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga : Menyoal Inflasi Jabar di Awal Tahun 2018
Fakta mengenai semakin konsumtifnya masyarakat
menjelang bulan Ramadhan sejalan dengan data
inflasi yang dirilis oleh BPS Kota
Tasikmalaya diawal
bulan Juni ini. Inflasi Kota Tasikmalaya
pada bulan Mei 2017 sebesar 0,62 %, menempatkan Sandang dan Bahan Makanan sebagai dua komoditas penyumbang inflasi terbesar yang mencapai angka 2,74 % dan 0,99%. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga terjadinya
inflasi pada bulan Mei antara lain sandal,
jaket, daging ayam
ras, telur ayam ras.
Diperkirakan inflasi bulan Juni akan lebih tinggi dari
inflasi Mei, mengingat permintaan barang konsumsi meningkat seiring dengan
kebiasaan masyarakat yang lebih konsumtif pada bulan Ramadhan. Sebagai contoh Rumah tangga yang tadinya tidak
mengkonsumsi daging ayam/ telur maka di bulan Ramadhan ini rumah tangga
tersebut mengkonsumsinya. Selain itu untuk persiapan menghadapi Idul Fitri
sebagian besar masyarakat membeli pakaian sehingga permintaan akan pakaian akan
meningkat.
Peran Pemerintah
Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah
untuk melindungi masyarakat dari inflasi terutama saat menjelang dan pada bulan Ramadhan karena dapat menurunkan
daya beli masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah.
Pada dasarnya kenaikan harga seperti ini sudah dapat
diantisipasi oleh pemerintah karena keadaan ini telah berulang-ulang setiap
tahunnya. Pemerintah dapat mengambil berbagai langkah-langkah seperti melakukan pemantauan harga di pasar-pasar induk untuk mencegah
adanya ketidaksesuaian harga.
Pemerintah juga dapat menyediakan stok kebutuhan pokok yang memadai untuk
menghindari terjadinya kelangkaan bahan kebutuhan pokok. Penetapan harga acuan
juga penting dilakukan untuk menghindari tingginya lonjakan harga yang
ditentukan oleh pedagang. Penyelenggaraan pasar murah juga dapat membantu
menekan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok di pasaran.
Peran Masyarakat
Masyarakat pun dituntut untuk lebih cerdas dalam
melihat fenomena kenaikan inflasi yang terjadi secara musiman setiap tahunnya
menjelang dan pada bulan Ramadhan. Berbagai langkah antisipasi dapat dilakukan oleh masyarakat
untuk mengurangi beban karena naiknya harga kebutuhan pokok. Masyarakat dapat
mengurangi konsumsi dengan cara membeli bahan makanan sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan ekonomi, sehingga jumlah pengeluaran
selama bulan Ramadhan dapat dikurangi.(*)
* Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kota Tasikmalaya

0 Response to "#1 Menyoal Inflasi di Bulan Ramadan"
Post a Comment