Introspeksi Diri di Hari Bumi
Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)
Ketika berbicara tentang hari bumi (Earth Day) selalu dihubungkan dengan
kelestarian lingkungan. Hal ini tidak terlepas dari semangat untuk melindungi
bumi kita dari pencemaran lingkungan yang dicetuskan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970, sehingga
diperingati sebagai hari bumi internasional setiap tanggal 22 April. Setidaknya
terdapat dua pernyataan yang penting dalam setiap peringatan hari bumi. Pertama
sebagai bentuk apresiasi terhadap bumi ini dengan segala manfaat yang diberikan
kepada kita dan meningkatkan kesadaran kepada kita bahwa dengan rusaknya
lingkungan hidup, dampaknya akan dirasakan kembali oleh kita. Sebagai contoh
dengan adanya kegiatan penebangan liar maka dampak yang akan muncul adalah
banjir, longsor, kebakaran, meningkatnya pemanasan global. Oleh karena itu
tidak bisa dipisahkan kerusakan lingkungan dengan terjadinya bencana alam.
Terdapat
beberapa aksi nyata yang bisa dilakukan oleh kita dalam memperingati hari bumi
dalam kehidupan sehari-hari. Pertama menghemat energi; dengan cara mematikan
barang-barang elektronik di rumah kita ketika tidak digunakan seperti lampu,
televisi, radio, komputer, AC dll. Untuk menghemat energi juga bisa dilakukan
dengan bijak menggunakan kendaraan yaitu berjalan kaki atau menggunakan sepeda
ketika beraktivitas dibandingkan dengan menggunakan sepeda motor atau mobil
jika memungkinkan. Kedua dengan cara menanam pohon, karena banyak manfaatnya
untuk kelestarian lingkungan yaitu sebagai penyumbang oksigen, menjaga
kesuburan tanah, dan mengurangi polusi udara. Ketiga dengan cara mengurangi
penggunaan kantong plastik, alasannya kantong plastik (dan jenis plastik
lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga
sulit diurai oleh mikroorganisme dan kantong plastik akan terurai ratusan
hingga ribuan tahun kemudian. Selain itu dari proses produksi, konsumsi, hingga
pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi
terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. Sumber material
kantong plastik yang terbuat dari minyak bumi, yang merupakan sumber daya alam
tak terbarukan, mengakibatkan pencemaran lingkungan di negara-negara berkembang
karena limbah pabriknya dibuang ke sungai dan pembakaran gas metana
mengakibatkan emisi karbon ke udara.
Baca juga : Ironi Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan
Berhenti merokok
merupakan salah aksi nyata dalam memperingati hari bumi. Berdasarkan Sejumlah
peneliti menemukan bahwa hidup bersama dengan perokok sama berbahaya dengan
tinggal di kota-kota yang tercemar polusi udara berat seperti Beijing atau
London. Selain itu puntung rokok mengandung bahan kimia berbahaya seperti
cadmium, arsenic dan timah yang secara parsial dilepaskan ke udara selama
proses merokok yang menambah menurunkan kualitas udara sekitar. Kepala penulis
Dr. Sean Semple, dari Universitas Aberdeen berkata, "Para perokok
seringkali menyatakan pandangan bahwa polisi udara lebih penting dibandingkan
perokok pasif di rumah mereka." Padahal asap rokok dapat memproduksi
partikel racun di rumah yang lebih besar dibandingkan polusi udara di kota-kota
di Inggris.
Walaupun kampanye
anti rokok terus digalakan, namun berdasarkan data yang dirilis oleh Badan
Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Barat, menunjukan bahwa konsumsi rokok
tidak berkurang secara drastis. Hal ini bisa dilihat jumlah uang yang
dikeluarkan untuk komoditas rokok rata-rata perkapita per bulan pada tahun 2016
mendekati angka 69 ribu rupiah, melebihi rata-rata yang dikeluarkan untuk
komoditas padi-padian sebesar 60 ribu rupiah. Apabila dihitung secara
persentase, rata-rata penduduk di Jawa Barat dalam mengkonsumsi komoditas rokok
proporsinya sebesar 14,53% dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti
komoditas padi-padian,telur, susu, sayuran, buah-buahan dan komoditas makanan
lainnya. Apabila melihat angka tersebut, gerakan berhenti merokok tentunya
menjadi hal yang teramat sulit untuk dicapai. Namun dalam semangat hari bumi di
tahun ini, ketika para perokok tidak bisa berhenti dari rokok yang bisa
dilakukan adalah mengubah perilaku rokok.
Baca juga : Rokok dan Pemuda
Diantaranya tidak merokok
sembarangan, baik merokok di fasilitas umum maupun diruangan tertutup termasuk
di dalam rumah. Seringkali perilaku merokok sembarangan dianggap sesuatu hal
yang biasa, padahal orang yang biasa tinggal dengan perokok akan mengalami
gangguan kesehatan. Menurut data dari publikasi Tobacco Control, hidup
dengan perokok sama seperti tinggal di kota dengan tingkat polusi tinggi
seperti London atau Beijing. Meski seseorang tidak pernah merokok, ia berisiko
terkena penyakit kardiovakular dan
kanker paru-paru jika menjadi perokok pasif (secondhand smoke). Dampak yang akan
dialami perokok pasif bahkan akan lebih besar dibandingkan dengan perokok
aktif. Pasalnya, banyak perokok yang tidak benar-benar mengisap dalam-dalam
rokoknya sehingga asap yang dikeluarkannya jauh lebih banyak dan asap inilah
yang terisap orang di sekitarnya. Bahaya asap rokok bagi perokok pasif ini
semakin berlipat ganda jika para perokok aktif merokok di ruang tertutup.
Menurut hasil sebuah penelitian para ilmuan dari Universitas Hongkong, bayi dan
anak-anak yang berada di lingkungan perokok tercatat 50 persen lebih sering
berobat ke rumah sakit akibat penyakit infeksi. Anak-anak perokok pasif juga 75
persen lebih sering menjalani pengobatan penyakit seperti gangguan pernafasan
dan meningitis.
Baca juga : Rokok Mengancam Bonus Demografi
Langkah berikutnya
adalah tidak membuang limbah rokok sembarangan, baik kemasan, asap, puntung,
maupun abunya. Data yang dirilis oleh national geographic bahwa puntung rokok
dan produk limbah tembakau lainnya adalah sampah nomor satu yang ditemukan
di pantai di seluruh dunia. Berdasarkan penelitian plastik rokok filter sangat
tidak ramah lingkungan dan dapat menebarkan zat bahan kimia berbahaya walaupun
telah 10 tahun dibuang.
Kaitannya dengan
limbah puntung rokok, publikasi BPS tahun 2017 menyebutkan bahwa penduduk
berusia 15 tahun keatas yang merokok, rata-rata menghisap antara 67 hingga 73
batang rokok setiap minggunya. Angka tertinggi berada di Kabupaten Ciamis
sebanyak 73 batang rokok/minggu, Kabupaten Garut (71 batang rokok/minggu), Kota
Banjar (70 batang rokok/minggu), Sumedang (67 batang rokok/minggu), dan Kota
dan Kabupaten Tasikmalaya (67 batang rokok/minggu). Dari data tersebut,
andaikan perilaku dari perokok dengan membuang puntung rokok sembarangan,
berapa puluh ribu puntung rokok akan mencemari lingkungan setiap bulannya.
Oleh karena itu,
dalam memperingati hari bumi langkah nyata bisa dilakukan oleh siapa saja,
dimana saja, dan setiap waktu. Sebagai ibu rumah tangga dengan cara menghemat
peralatan listrik sehari-hari, dengan menghemat air. Bagi anda yang bekerja di
kantoran, setidaknya mematikan dulu alat-alat kantor sebelum pulang, matikan AC
jika tidak digunakan. Bagi anda yang belum bisa berhenti merokok, ubah perilaku
merokok anda dengan merokok di tempat yang sudah disediakan dan tidak membuang
limbah rokok sembarangan. Setiap aksi kita walaupun hal kecil merupakan bentuk
bentuk nyata dalam mendukung kelestarian lingkungan.(*)
*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kabupaten Tasikmalaya


0 Response to "#18 Introspeksi Diri di Hari Bumi"
Post a Comment