#18 Introspeksi Diri di Hari Bumi

Introspeksi Diri di Hari Bumi



Introspeksi Diri di Hari Bumi

Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)

Ketika berbicara tentang hari bumi (Earth Day) selalu dihubungkan dengan kelestarian lingkungan. Hal ini tidak terlepas dari semangat untuk melindungi bumi kita dari pencemaran lingkungan yang dicetuskan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970, sehingga diperingati sebagai hari bumi internasional setiap tanggal 22 April. Setidaknya terdapat dua pernyataan yang penting dalam setiap peringatan hari bumi. Pertama sebagai bentuk apresiasi terhadap bumi ini dengan segala manfaat yang diberikan kepada kita dan meningkatkan kesadaran kepada kita bahwa dengan rusaknya lingkungan hidup, dampaknya akan dirasakan kembali oleh kita. Sebagai contoh dengan adanya kegiatan penebangan liar maka dampak yang akan muncul adalah banjir, longsor, kebakaran, meningkatnya pemanasan global. Oleh karena itu tidak bisa dipisahkan kerusakan lingkungan dengan terjadinya bencana alam.
Terdapat beberapa aksi nyata yang bisa dilakukan oleh kita dalam memperingati hari bumi dalam kehidupan sehari-hari. Pertama menghemat energi; dengan cara mematikan barang-barang elektronik di rumah kita ketika tidak digunakan seperti lampu, televisi, radio, komputer, AC dll. Untuk menghemat energi juga bisa dilakukan dengan bijak menggunakan kendaraan yaitu berjalan kaki atau menggunakan sepeda ketika beraktivitas dibandingkan dengan menggunakan sepeda motor atau mobil jika memungkinkan. Kedua dengan cara menanam pohon, karena banyak manfaatnya untuk kelestarian lingkungan yaitu sebagai penyumbang oksigen, menjaga kesuburan tanah, dan mengurangi polusi udara. Ketiga dengan cara mengurangi penggunaan kantong plastik, alasannya kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme dan kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian. Selain itu dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. Sumber material kantong plastik yang terbuat dari minyak bumi, yang merupakan sumber daya alam tak terbarukan, mengakibatkan pencemaran lingkungan di negara-negara berkembang karena limbah pabriknya dibuang ke sungai dan pembakaran gas metana mengakibatkan emisi karbon ke udara.
Baca juga : Ironi Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan
Berhenti merokok merupakan salah aksi nyata dalam memperingati hari bumi. Berdasarkan Sejumlah peneliti menemukan bahwa hidup bersama dengan perokok sama berbahaya dengan tinggal di kota-kota yang tercemar polusi udara berat seperti Beijing atau London. Selain itu puntung rokok mengandung bahan kimia berbahaya seperti cadmium, arsenic dan timah yang secara parsial dilepaskan ke udara selama proses merokok yang menambah menurunkan kualitas udara sekitar. Kepala penulis Dr. Sean Semple, dari Universitas Aberdeen berkata, "Para perokok seringkali menyatakan pandangan bahwa polisi udara lebih penting dibandingkan perokok pasif di rumah mereka." Padahal asap rokok dapat memproduksi partikel racun di rumah yang lebih besar dibandingkan polusi udara di kota-kota di Inggris.
Walaupun kampanye anti rokok terus digalakan, namun berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Barat, menunjukan bahwa konsumsi rokok tidak berkurang secara drastis. Hal ini bisa dilihat jumlah uang yang dikeluarkan untuk komoditas rokok rata-rata perkapita per bulan pada tahun 2016 mendekati angka 69 ribu rupiah, melebihi rata-rata yang dikeluarkan untuk komoditas padi-padian sebesar 60 ribu rupiah. Apabila dihitung secara persentase, rata-rata penduduk di Jawa Barat dalam mengkonsumsi komoditas rokok proporsinya sebesar 14,53% dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti komoditas padi-padian,telur, susu, sayuran, buah-buahan dan komoditas makanan lainnya. Apabila melihat angka tersebut, gerakan berhenti merokok tentunya menjadi hal yang teramat sulit untuk dicapai. Namun dalam semangat hari bumi di tahun ini, ketika para perokok tidak bisa berhenti dari rokok yang bisa dilakukan adalah mengubah perilaku rokok.
Baca juga : Rokok dan Pemuda
Diantaranya tidak merokok sembarangan, baik merokok di fasilitas umum maupun diruangan tertutup termasuk di dalam rumah. Seringkali perilaku merokok sembarangan dianggap sesuatu hal yang biasa, padahal orang yang biasa tinggal dengan perokok akan mengalami gangguan kesehatan. Menurut data dari publikasi Tobacco Control, hidup dengan perokok sama seperti tinggal di kota dengan tingkat polusi tinggi seperti London atau Beijing. Meski seseorang tidak pernah merokok, ia berisiko terkena penyakit kardiovakular dan kanker paru-paru jika menjadi perokok pasif (secondhand smoke). Dampak yang akan dialami perokok pasif bahkan akan lebih besar dibandingkan dengan perokok aktif. Pasalnya, banyak perokok yang tidak benar-benar mengisap dalam-dalam rokoknya sehingga asap yang dikeluarkannya jauh lebih banyak dan asap inilah yang terisap orang di sekitarnya. Bahaya asap rokok bagi perokok pasif ini semakin berlipat ganda jika para perokok aktif merokok di ruang tertutup. Menurut hasil sebuah penelitian para ilmuan dari Universitas Hongkong, bayi dan anak-anak yang berada di lingkungan perokok tercatat 50 persen lebih sering berobat ke rumah sakit akibat penyakit infeksi. Anak-anak perokok pasif juga 75 persen lebih sering menjalani pengobatan penyakit seperti gangguan pernafasan dan meningitis.
Baca juga : Rokok Mengancam Bonus Demografi
Langkah berikutnya adalah tidak membuang limbah rokok sembarangan, baik kemasan, asap, puntung, maupun abunya. Data yang dirilis oleh national geographic bahwa puntung rokok dan produk limbah tembakau lainnya adalah sampah nomor satu yang ditemukan di pantai di seluruh dunia. Berdasarkan penelitian plastik rokok filter sangat tidak ramah lingkungan dan dapat menebarkan zat bahan kimia berbahaya walaupun telah 10 tahun dibuang.
Kaitannya dengan limbah puntung rokok, publikasi BPS tahun 2017 menyebutkan bahwa penduduk berusia 15 tahun keatas yang merokok, rata-rata menghisap antara 67 hingga 73 batang rokok setiap minggunya. Angka tertinggi berada di Kabupaten Ciamis sebanyak 73 batang rokok/minggu, Kabupaten Garut (71 batang rokok/minggu), Kota Banjar (70 batang rokok/minggu), Sumedang (67 batang rokok/minggu), dan Kota dan Kabupaten Tasikmalaya (67 batang rokok/minggu). Dari data tersebut, andaikan perilaku dari perokok dengan membuang puntung rokok sembarangan, berapa puluh ribu puntung rokok akan mencemari lingkungan setiap bulannya.
Oleh karena itu, dalam memperingati hari bumi langkah nyata bisa dilakukan oleh siapa saja, dimana saja, dan setiap waktu. Sebagai ibu rumah tangga dengan cara menghemat peralatan listrik sehari-hari, dengan menghemat air. Bagi anda yang bekerja di kantoran, setidaknya mematikan dulu alat-alat kantor sebelum pulang, matikan AC jika tidak digunakan. Bagi anda yang belum bisa berhenti merokok, ubah perilaku merokok anda dengan merokok di tempat yang sudah disediakan dan tidak membuang limbah rokok sembarangan. Setiap aksi kita walaupun hal kecil merupakan bentuk bentuk nyata dalam mendukung kelestarian lingkungan.(*)
*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kabupaten Tasikmalaya

Introspeksi Diri di Hari Bumi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#18 Introspeksi Diri di Hari Bumi"

Post a Comment