#21 Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya

Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya

Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya

Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)

Genap sudah 386 tahun lamanya Kabupaten Tasikmalaya telah berdiri. Di usia yang sudah tidak muda lagi, Kabupaten Tasikmalaya sudah menjelma menjadi daerah yang sarat dengan pengalaman. Apabila melihat dari sejarahnya, Sukapura, cikal bakal terbentuknya Kabupaten Tasikmalaya, sejak awal menjadikan pertanian sebagai sektor utama untuk dikembangkan. Kebijakan ini dilakukan dari masa ke masa dimulai dari  bupati pertama yaitu, Ki Wirawangsa, zaman penjajahan Belanda, hingga era sekarang. Hasilnya, Kabupaten Tasikmalaya secara konsisten mampu menjaga ketahanan pangannya, bahkan bisa mencukupi kebutuhan pangan daerah lainnya di Jawa Barat, ada juga beberapa produk pertanian yang di ekspor keluar negeri.

Namun beberapa tahun terakhir berdasarkan penilaian beberapa indikator, sektor pertanian sebagai sektor unggulan di Kabupaten Tasikmalaya, perannya mulai digeser oleh sektor lainnya. Hal ini penting untuk menjadi bahan pemikiran, mengingat hingga saat ini hampir setengah populasi penduduk Kabupaten Tasikmalaya masih bergantung kepada sektor pertanian.

Peranan Sektor Pertanian Kabupaten Tasikmalaya

Untuk melihat peranan suatu sektor terhadap pembangunan daerah, bisa dilihat dari beberapa aspek. Antara lain, dilihat dari jumlah penduduk yang mengusahakan dan distribusi sektor tersebut terhadap pembentukan nilai PDRB.
Pada tahun 2016, jumlah penduduk Kab.Tasikmalaya berusia 15 tahun yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 168.485 orang (34,3%), disusul dengan sektor perdagangan (20%), sektor industri(17,8%) dan sisanya sektor lainnya. Hal ini menunjukan bahwa sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian utama di Kabupaten Tasikmalaya. Berdasarkan besarnya distribusi sektor pertanian terhadap PDRB, antara tahun 2014 hingga tahun 2016 sektor pertanian masih mendominasi dibandingkan sektor lainnya. Pada tahun 2016 distribusi sektor pertanian terhadap PDRB sekitar 38 persen, sektor perdagangan 20 persen, sisanya disumbang oleh sektor lainnya. Dari angka tersebut dapat diartikan bahwa sektor pertanian menjadi motor penggerak perekonomian Kabupaten Tasikmalaya.

Pergeseran Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya

Suatu hal yang biasa ketika suatu kota maupun kabupaten mengalami pergeseran struktur ekonomi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya intervensi kebijakan pemerintahan daerah maupun pusat, ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA), penemuan teknologi dan faktor budaya suatu daerah. Sebagai contoh, di Kabupaten Mimika, Propinsi Papua hingga saat ini struktur ekonomi ditopang oleh oleh sektor pertambangan dan penggalian, struktur ekonomi di Bali ditopang oleh sektor pariwisata, sedangkan beberapa kota besar wilayah perkotaan didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa. Kabupaten Tasikmalaya sendiri, sejak berdirinya hingga sekarang masih menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertanian.

Walaupun peran sektor pertanian masih menjadi tumpuan utama pembangunan perekonomian di Kabupaten Tasikmalaya, namun pertumbuhannya dalam beberapa tahun terahir menunjukan ketidakstabilan, bahkan cenderung mengalami penurunan. Antara tahun 2014 hingga tahun 2016 laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian mengalami fluktuatif, mengalami penurunan di tahun 2015 sebesar 0,31 persen, kemudian pada tahun 2016 mengalami kenaikan. Sedangkan distribusi persentase sektor pertanian terhadap PDRB mengalami penurunan berturut-turut dalam rentang tahun yang sama. Terjadinya penurunan persentase distribusi sektor pertanian, dalam waktu yang sama terjadi kenaikan sektor industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, jasa keuangan, dan jasa pendidikan. Namun secara total, sektor pertanian tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Tasikmalaya.
Selain berdasarkan data PDRB, penurunan peran sektor pertanian bisa dilihat dari jumlah rumah tangga tani yang mengusahakan. Berdasarkan hasil Sensus Tani 2013, di Kabupaten Tasikmalaya terjadi penurunan ruta tani sebesar 38.728 ruta, atau secara persentase penurunannya sebesar 12,05% dibandingkan dengan Sensus Tani 2003. Salah satu faktor penyebab terjadi penurunan pada sektor pertanian yaitu tingkat kesejahteraan petani yang rendah dan adanya persepsi dari generasi muda bahwa bekerja di sektor pertanian kurang menjanjikan. Oleh karena itu terjadi peningkatan angkatan kerja di sektor non pertanian.

            Terjadinya pergeseran struktur ekonomi dari pertanian ke sektor lain, dalam teori ekonomi modern dianggap normal. Karena secara umum, dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, akan diiringi dengan bertambahnya jumlah pemukiman, pada tahap selanjutnya berkembang pula pusat-pusat industri, perbelanjaan, fasilitas umum, dan gedung perkantoran. Pembangunan infrastruktur tersebut berimbas terhadap berkurangnya lahan pertanian. Di sisi lain sektor pertanian mengalami penurunan, namun akan diikuti dengan berkembangnya sektor lainnya, seperti perdagangan industri, jasa dan sektor lainnya.

Keterkaitan Antar Sektor

            Keterbatasan lahan pertanian dan menurunnya rumah tangga tani merupakan permasalahan yang dialami oleh setiap daerah yang menempatkan sektor pertanian sebagai sektor utama(leading sector). Namun dengan adanya permasalahan seperti itu, pemerintah daerah lantas tidak berganti haluan ke sektor lainnya dalam menentukan prioritas pembangunannya. Karena secara empiris, banyak negara atau daerah maju berbasis pertanian.

            Dengan adanya pergeseran struktur ekonomi pertanian ke sektor lainnya, tidak selalu dipandang sebagai suatu masalah. Dilihat dari perspektif lain, dengan berkembangnya sektor non pertanian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sektor pertanian. Dengan kata lain, dengan berkembangnya sektor non pertanian di suatu daerah harus diintegrasikan dengan pemanfaatan sektor pertanian sebagai sektor primer.
Selandia Baru adalah contoh negara maju yang menerapkan basis pertanian. Hampir 50 persen, penghasilan devisa negaranya berasal dari ekpor industri pertanian. Produk olahan susu merupakan unggulannya, selain itu produk pertanian dari subsektor perkebunan banyak menghasilkan devisa. Dalam mengelola perkebunan, dibedakan antara pemilik kebun dan peternak kebun, keduanya bersinergi dalam mengelola kegiatan usaha taninya. Dengan memadukan potensi keindahan alamnya, petani perkebunan dan pemilik kebun menjadikan perkebunan mereka sebagai objek wisata. Banyak restoran yang menyajikan produk dengan bahan baku yang diambil langsung dari kebun mereka. Cara ini tentu saja menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.

            Dalam tata kelola pertanian, diperlukan juga keterlibatan sektor keuangan, karena keterbatasan modal merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi petani. Jepang sebagai negara industri maju, dalam mengelola pertanian melibatkan sektor lembaga keuangan yaitu koperasi pertanian, Japan Agriculture (JA). Lembaga ini mendukung petani di berbagai sisi, baik dari sisi teknis budidaya, sisi tata kelola, akses permodalan dan bahkan sampai dengan kebijakan sektor pertanian yang lebih berpihak kepada petani. Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh para petani jepang dapat dibantu melalui lembaga koperasi ini.
Berkembangnya informasi dan teknologi dengan pemanfaatan gadget secara luas, dapat dimanfaatkan petani untuk mengakses pengetahuan sekaligus memasarkan hasil produk pertanian lebih luas lagi. Selain itu, dengan penerapan teknologi di sektor pertanian, secara jangka panjang bisa mencapai pertanian yang efektif dan efisien. Dalam proses adopsi teknologi di sektor pertanian, harus sejalan dengan kearifan lokal dan kemampuan SDM yang terlibat di sektor ini. Untuk mengimbanginya diperlukan generasi muda yang punya dedikasi untuk memajukan pertanian. Walaupun faktanya, generasi muda kekinian, identik dengan ketidakmampuan bekerja dalam kelompok, tidak realistis, tidak konsisten, rendahnya motivasi dan etos kerja, serta enggan memulai karir dari bawah. Berbagai hal tersebut merupakan tantangan dan pertanyaan perihal kemampuan generasi muda untuk meningkatkan citra sektor pertanian di Indonesia.
Akhirnya, keberhasilan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sebagai penyangga ketahanan pangan di Jawa Barat dan produk pertanian yang sudah menembus ke mancanegara, harus dijadikan momentum untuk terus memajukan pertanian.  Andaikan semua daerah, beralih fokus pembangunan ke sektor non pertanian, lantas kapan ketahanan pangan akan tercipta.  Akan selalu ada daerah yang maju dengan sektor pertanian, namun ada pula daerah lainnya tumbuh pesat dengan sektor lainnya, disesuaikan dengan kearifan lokal, potensi daerah, dan political will pemerintah. Namun ketika pemerintah sudah menentukan sektor mana saja yang menjadi prioritas, tidak lain mengacu pada tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan masyarakatnya*** 

*Penulis adalah Statistisi Pertama pada BPS Kabupaten Tasikmalaya


Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#21 Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya"

Post a Comment