Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya
Oleh : Dudi Suryadi, SE, MP*
(Artikel dimuat di koran Kabar Priangan)
Genap
sudah 386 tahun lamanya Kabupaten Tasikmalaya telah berdiri. Di usia yang sudah
tidak muda lagi, Kabupaten Tasikmalaya sudah menjelma menjadi daerah yang sarat
dengan pengalaman. Apabila melihat dari sejarahnya, Sukapura, cikal bakal
terbentuknya Kabupaten Tasikmalaya, sejak awal menjadikan pertanian sebagai
sektor utama untuk dikembangkan. Kebijakan ini dilakukan dari masa ke masa
dimulai dari bupati pertama yaitu, Ki
Wirawangsa, zaman penjajahan Belanda, hingga era sekarang. Hasilnya, Kabupaten
Tasikmalaya secara konsisten mampu menjaga ketahanan pangannya, bahkan bisa
mencukupi kebutuhan pangan daerah lainnya di Jawa Barat, ada juga beberapa
produk pertanian yang di ekspor keluar negeri.
Namun
beberapa tahun terakhir berdasarkan penilaian beberapa indikator, sektor
pertanian sebagai sektor unggulan di Kabupaten Tasikmalaya, perannya mulai
digeser oleh sektor lainnya. Hal ini penting untuk menjadi bahan pemikiran,
mengingat hingga saat ini hampir setengah populasi penduduk Kabupaten
Tasikmalaya masih bergantung kepada sektor pertanian.
Peranan
Sektor Pertanian Kabupaten Tasikmalaya
Untuk
melihat peranan suatu sektor terhadap pembangunan daerah, bisa dilihat dari
beberapa aspek. Antara lain, dilihat dari jumlah penduduk yang mengusahakan dan
distribusi sektor tersebut terhadap pembentukan nilai PDRB.
Baca juga : Menakar Sektor Pertanian di Jawa Barat
Pada
tahun 2016, jumlah penduduk Kab.Tasikmalaya berusia 15 tahun yang bekerja di
sektor pertanian sebanyak 168.485 orang (34,3%), disusul dengan sektor
perdagangan (20%), sektor industri(17,8%) dan sisanya sektor lainnya. Hal ini
menunjukan bahwa sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian utama di
Kabupaten Tasikmalaya. Berdasarkan besarnya distribusi sektor pertanian
terhadap PDRB, antara tahun 2014 hingga tahun 2016 sektor pertanian masih
mendominasi dibandingkan sektor lainnya. Pada tahun 2016 distribusi sektor
pertanian terhadap PDRB sekitar 38 persen, sektor perdagangan 20 persen,
sisanya disumbang oleh sektor lainnya. Dari angka tersebut dapat diartikan
bahwa sektor pertanian menjadi motor penggerak perekonomian Kabupaten
Tasikmalaya.
Pergeseran
Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya
Suatu
hal yang biasa ketika suatu kota maupun kabupaten mengalami pergeseran struktur
ekonomi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya intervensi
kebijakan pemerintahan daerah maupun pusat, ketersediaan Sumber Daya Alam
(SDA), penemuan teknologi dan faktor budaya suatu daerah. Sebagai contoh, di
Kabupaten Mimika, Propinsi Papua hingga saat ini struktur ekonomi ditopang oleh
oleh sektor pertambangan dan penggalian, struktur ekonomi di Bali ditopang oleh
sektor pariwisata, sedangkan beberapa kota besar wilayah perkotaan didominasi
oleh sektor perdagangan dan jasa. Kabupaten Tasikmalaya sendiri, sejak
berdirinya hingga sekarang masih menggantungkan perekonomiannya pada sektor
pertanian.
Walaupun
peran sektor pertanian masih menjadi tumpuan utama pembangunan perekonomian di
Kabupaten Tasikmalaya, namun pertumbuhannya dalam beberapa tahun terahir menunjukan
ketidakstabilan, bahkan cenderung mengalami penurunan. Antara tahun 2014 hingga
tahun 2016 laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian mengalami fluktuatif,
mengalami penurunan di tahun 2015 sebesar 0,31 persen, kemudian pada tahun 2016
mengalami kenaikan. Sedangkan distribusi persentase sektor pertanian terhadap
PDRB mengalami penurunan berturut-turut dalam rentang tahun yang sama. Terjadinya
penurunan persentase distribusi sektor pertanian, dalam waktu yang sama terjadi
kenaikan sektor industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, informasi
dan komunikasi, jasa keuangan, dan jasa pendidikan. Namun secara total, sektor
pertanian tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten
Tasikmalaya.
Baca juga : Ironi Kemiskinan Pedesaan di Era Kemerdekaan
Selain
berdasarkan data PDRB, penurunan peran sektor pertanian bisa dilihat dari
jumlah rumah tangga tani yang mengusahakan. Berdasarkan hasil Sensus Tani 2013,
di Kabupaten Tasikmalaya terjadi penurunan ruta tani sebesar 38.728 ruta, atau
secara persentase penurunannya sebesar 12,05% dibandingkan dengan Sensus Tani
2003. Salah satu faktor penyebab terjadi penurunan pada sektor pertanian yaitu
tingkat kesejahteraan petani yang rendah dan adanya persepsi dari generasi muda
bahwa bekerja di sektor pertanian kurang menjanjikan. Oleh karena itu terjadi
peningkatan angkatan kerja di sektor non pertanian.
Terjadinya pergeseran struktur ekonomi dari pertanian ke
sektor lain, dalam teori ekonomi modern dianggap normal. Karena secara umum,
dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, akan diiringi dengan
bertambahnya jumlah pemukiman, pada tahap selanjutnya berkembang pula
pusat-pusat industri, perbelanjaan, fasilitas umum, dan gedung perkantoran.
Pembangunan infrastruktur tersebut berimbas terhadap berkurangnya lahan
pertanian. Di sisi lain sektor pertanian mengalami penurunan, namun akan
diikuti dengan berkembangnya sektor lainnya, seperti perdagangan industri, jasa
dan sektor lainnya.
Keterkaitan
Antar Sektor
Keterbatasan lahan pertanian dan menurunnya rumah tangga
tani merupakan permasalahan yang dialami oleh setiap daerah yang menempatkan
sektor pertanian sebagai sektor utama(leading
sector). Namun dengan adanya permasalahan seperti itu, pemerintah daerah lantas
tidak berganti haluan ke sektor lainnya dalam menentukan prioritas
pembangunannya. Karena secara empiris, banyak negara atau daerah maju berbasis
pertanian.
Dengan adanya pergeseran struktur ekonomi pertanian ke
sektor lainnya, tidak selalu dipandang sebagai suatu masalah. Dilihat dari
perspektif lain, dengan berkembangnya sektor non pertanian dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan sektor pertanian. Dengan kata lain, dengan berkembangnya
sektor non pertanian di suatu daerah harus diintegrasikan dengan pemanfaatan
sektor pertanian sebagai sektor primer.
Baca juga : Tingkat Pengangguran di Jawa Barat
Selandia Baru
adalah contoh negara maju yang menerapkan basis pertanian. Hampir 50 persen,
penghasilan devisa negaranya berasal dari ekpor industri pertanian. Produk
olahan susu merupakan unggulannya, selain itu produk pertanian dari subsektor
perkebunan banyak menghasilkan devisa. Dalam mengelola perkebunan, dibedakan
antara pemilik kebun dan peternak kebun, keduanya bersinergi dalam mengelola
kegiatan usaha taninya. Dengan memadukan potensi keindahan alamnya, petani
perkebunan dan pemilik kebun menjadikan perkebunan mereka sebagai objek wisata.
Banyak restoran yang menyajikan produk dengan bahan baku yang diambil langsung
dari kebun mereka. Cara ini tentu saja menarik banyak wisatawan untuk
berkunjung.
Dalam
tata kelola pertanian, diperlukan juga keterlibatan sektor keuangan, karena
keterbatasan modal merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi petani. Jepang
sebagai negara industri maju, dalam mengelola pertanian melibatkan sektor
lembaga keuangan yaitu
koperasi pertanian, Japan Agriculture (JA). Lembaga ini mendukung petani di
berbagai sisi, baik dari sisi teknis budidaya, sisi tata kelola, akses
permodalan dan bahkan sampai dengan kebijakan sektor pertanian yang lebih berpihak
kepada petani. Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh para petani jepang
dapat dibantu melalui lembaga koperasi ini.
Baca juga : Menakar Potensi Pemuda di Zaman "Now"
Berkembangnya informasi dan teknologi dengan
pemanfaatan gadget secara luas, dapat
dimanfaatkan petani untuk mengakses pengetahuan sekaligus memasarkan hasil
produk pertanian lebih luas lagi. Selain itu, dengan penerapan teknologi di
sektor pertanian, secara jangka panjang bisa mencapai pertanian yang efektif
dan efisien. Dalam proses adopsi teknologi di sektor pertanian, harus sejalan
dengan kearifan lokal dan kemampuan SDM yang terlibat di sektor ini. Untuk
mengimbanginya diperlukan generasi muda yang punya dedikasi untuk memajukan
pertanian. Walaupun faktanya, generasi muda kekinian, identik dengan ketidakmampuan
bekerja dalam kelompok, tidak realistis, tidak konsisten, rendahnya motivasi
dan etos kerja, serta enggan memulai karir dari bawah. Berbagai hal tersebut
merupakan tantangan dan pertanyaan perihal kemampuan generasi muda untuk
meningkatkan citra sektor pertanian di Indonesia.
Akhirnya,
keberhasilan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sebagai penyangga ketahanan
pangan di Jawa Barat dan produk pertanian yang sudah menembus ke mancanegara,
harus dijadikan momentum untuk terus memajukan pertanian. Andaikan semua daerah, beralih fokus
pembangunan ke sektor non pertanian, lantas kapan ketahanan pangan akan
tercipta. Akan selalu ada daerah yang
maju dengan sektor pertanian, namun ada pula daerah lainnya tumbuh pesat dengan
sektor lainnya, disesuaikan dengan kearifan lokal, potensi daerah, dan political will pemerintah. Namun ketika
pemerintah sudah menentukan sektor mana saja yang menjadi prioritas, tidak lain
mengacu pada tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan masyarakatnya***


0 Response to "#21 Transformasi Struktur Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya"
Post a Comment