Pengangguran Tertinggi
(masih) Lulusan SMK
Oleh
: Kosih Kosasih, S.Si*
Menyediakan
lapangan pekerjaan bagi masyarakat menjadi sesuatu yang sangat penting
dilakukan oleh Pemerintah, mengingat jumlah pencari kerja dari tahun ke tahun
terus meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat pada bulan
Februari 2018, dari 100 angkatan kerja terdapat 8 hingga 9 orang pengangguran.
Ironisnya, dibandingkan dengan lulusan sekolah lainnya, pengangguran paling tinggi
adalah lulusan SMK, yaitu sebesar 13,23 persen.
Dikutip
dari Berita Resmi Statistik BPS Jawa Barat No. 28/05/32/Th. XX, 7 Mei 2018, pada
Februari 2018 terdapat 22,77 juta orang angkatan kerja, terdiri dari 20,91 juta
orang penduduk bekerja dan 1,86 juta orang penganggur. Dengan demikian Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2018 adalah sebesar 8,16 persen. Dibandingkan
Februari 2017, jumlah penduduk bekerja naik sebanyak 0,19 juta orang dan jumlah
penganggur turun sebanyak 0,06 juta orang (0,33 persen), sehingga jumlah
angkatan kerja naik sebanyak 0,13 juta orang.
Baca juga : Pengangguran Jawa Barat Tertinggi ke 2 di Indonesia
Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menggambarkan persentase penduduk usia
kerja (usia 15 tahun ke atas) yang berpartisipasi aktif di pasar kerja. TPAK pada Februari 2018 sebesar 63,82 persen, artinya dari 100 penduduk usia kerja terdapat sekitar 64 orang yang berpartisipasi aktif di pasar kerja.
kerja (usia 15 tahun ke atas) yang berpartisipasi aktif di pasar kerja. TPAK pada Februari 2018 sebesar 63,82 persen, artinya dari 100 penduduk usia kerja terdapat sekitar 64 orang yang berpartisipasi aktif di pasar kerja.
Kualitas
penduduk bekerja dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan. Pada
ebruari 2018, penduduk yang bekerja paling banyak masih berpendidikan rendah
(SMP ke bawah) yaitu mencapai 58,23 persen, naik 0,39 persen poin dari tahun
sebelumnya. Peningkatan persentase penduduk bekerja juga terjadi di tingkat
pendidikan menengah (SMA dan SMK), yaitu dari 29,16 persen pada Februari 2017
menjadi 29,96 persen pada Februari 2018. Sementara persentase penduduk bekerja
berpendidikan tinggi (Diploma I/II/III dan Universitas) turun sebesar 1,19
persen poin.
Walaupun
demikian, TPT untuk pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menempati
posisi tertinggi (13,23 persen), disusul oleh TPT Diploma I/II/III (12,66
persen). Sementara TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan SD ke bawah
yaitu sebesar 4,59 persen. Hal ini dikarenakan mereka yang berpendidikan rendah
cenderung mau menerima pekerjaan apapun, sementara mereka yang berpendidikan
lebih tinggi cenderung memilih pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
Baca juga : Tingkat Pengangguran di Jawa Barat
Bila
dibandingkan dengan keadaan Februari 2017, terjadi peningkatan TPT pada jenjang
pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ke atas, yaitu SMA naik sebesar 0,47
persen poin, Diploma I/II/III cukup tajam kenaikannya sebesar 7,38 persen poin,
dan Universitas naik sebesar 2,71 persen poin. Sedangkan TPT yang mengalami
penurunan dari tahun sebelumnya selain SD ke bawah yaitu pada Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) sebesar 0,34 persen poin.
Dari
17 sektor lapangan usaha yang ada di Jawa Barat, lima lapangan usaha yang
menyerap tenaga kerja paling banyak diantaranya, sektor Perdagangan (4,77 juta
orang), sektor Industri Pengolahan (4,49 juta orang), sektor Pertanian (3,2
juta orang), sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (1,49 juta orang), dan
sektor Konstruksi (1,31 juta orang).
Peningkatan
jumlah tenaga kerja terjadi pada Februari 2018, terutama di Sektor Industri
sebanyak 0,21 juta orang (0,84 persen), kemudian diikuti Sektor Jasa Lainnya
sebanyak 0,16 juta orang (0,74 persen), Sektor Perdagangan sebanyak 0,14 juta
orang (0,43 persen), Sektor Transportasi dan Pergudangan sebanyak 0,13 juta
orang (0,58 persen).
Sedangkan
lapangan usaha yang mengalami penurunan jumlah tenaga kerja diantaranya, Sektor
Pertanian sebanyak 0,35 juta orang (1,83 persen), disusul Sektor Jasa Pendidikan sebanyak 0,09 juta orang
(0,47 persen), Sektor Administrasi Pemerintahan sebanyak 0,07 juta orang (0,37
persen), Sektor Kontruksi sebanyak 0,05 juta orang (0,29 persen), Sektor Real
Estate sebanyak 0,02 juta orang (0,12 persen). Selain itu, sektor yang
penyerapan tenaga kerjanya hampir sama dibandingkan setahun yang lalu yaitu
sektor Pertambangan dan Penggalian.
Jika
melihat TPT tertinggi yang masih diduduki oleh lulusan SMK sejak Februari –
Agustus 2017 lalu, maka hal ini menjadi PR Pemerintah bagaimana kurikulum SMK
mampu menjawab dunia kerja, karena mereka adalah tenaga siap kerja. Sungguh
ironis jika sebagian besar lulusan SMK tidak terserap lapangan pekerjaan karena
keahliannya tidak banyak dibutuhkan. Sehingga, karena lulusan SMK cenderung
memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya maka mereka memilih untuk
menunggu pekerjaan lain (menganggur) sampai pekerjaan yang sesuai didapatkan.
Baca juga : Tantangan Buruh Lokal di Zaman "Now"
Untuk
mengatasi masalah ini, Pemerintah diharapkan mampu menyediakan lapangan
pekerjaan yang lebih banyak lagi khususnya bagi lulusan SMK. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak pemberi kerja sehingga
setelah lulus dapat langsung diserap. Selain itu, Pemerintah dapat memberikan
pelatihan dan bimbingan kerja karena lulusan SMK sebetulnya sudah mempunyai
modal berupa keahlian yang dapat langsung digunakan untuk membuka usaha baru.
Tentunya harus dibarengi dengan kemudahan mendapatkan suntikan modal agar
mereka bisa berwirausaha.(*)
*Penulis adalah Statistisi pada BPS Kota Tasikmalaya

0 Response to "#45 Pengangguran Tertinggi (masih) Lulusan SMK"
Post a Comment