Oleh : Ani Saebani, S.Si*
(Artikel dimuat di koran Radar Cianjur edisi 22 November 2018)
Fenomena pengangguran akan selalu ada jika penawaran
tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan pasar tenaga kerja yang tersedia. BPS
mencatat, pada Agustus 2018 angka pengangguran terbuka sebesar 5,34 persen atau
sekitar 7 juta orang masih menganggur. Yang menjadi “PR” pemerintah justru
pendidikan vokasi menengah sebagai penyumbang tertinggi menjadi penganggur.
Apakah yang menjadi inti permasalahan, kesalahan kurikulum atau kurangnya pasar
tenaga kerja untuk tingkat terampil. Bagaimana pun pertumbuhan ekonomi yang
berkualitas sangat menentukan penciptaan lapangan kerja.
Walaupun gejolak ekonomi global belum
mereda, tercermin dengan adanya penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yang
rata-rata tahun ini di prediksi di sekitar angka 3,7 persen. Dampaknya terasa
oleh negara berkembang dan emerging
economic termasuk Indonesia. Beruntung untuk Indonesia sebagai negara emerging economic dampaknya tidak
separah negara lain seperti Turki dan Argentina. Makro ekonomi Indonesia masih
baik seperti masih tingginya tingkat konsumsi serta terkendalinya tingkat
inflasi di bawah angka 3,5 persen sesuai target APBN 2018. Walaupun pertumbuhan
ekonomi Indonesia akan terasa berat tumbuh sebesar 5,4 persen sesuai target
pemerintah. Akan tetapi pertumbuhan masih terjaga di atas 5 persen seperti
tercermin sesuai data BPS, dimana laju ekonomi Indonesia tumbuh 5,17 persen di
triwulan III-2018.
Baca juga : Ekonomi Jawa Barat Triwulan III - 2018 Tumbuh 5,58 Persen
Seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia
yang masih stabil, berpengaruh kepada penciptaan lapangan kerja di tahun 2018.
Terlihat dengan adanya penyerapan tenaga kerja dalam satu tahun terakhir
sebanyak 2,99 juta orang dengan berbagai lapangan pekerjaan. Sesuai data BPS,
Agustus 2018 terjadi kenaikkan angkatan kerja sebanyak 2,95 juta orang sehingga
jumlah angkatan kerja sebanyak 131,01 juta. Dimana tingkat partisipasi angkatan
kerja (TPAK) mengalami peningkatan menjadi 67,26 persen dibandingkan dengan
tahun 2017. Kenaikkan TPAK menggambarkan adanya partisipasi penduduk terhadap
aktivitas ekonomi yang berpengaruh kepada peningkatan Produk Domestik Bruto
(PDB).
Untuk mempersiapkan sumber daya manusia
yang siap pakai untuk keperluan dunia usaha, maka pendirian Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut. Tetapi ironis,
sudah beberapa tahun penyumbang angka pengangguran tertinggi berasal dari
tingkat pendidikan SMK.
Baca juga : Pengangguran Tertinggi (masih) Lulusan SMK
Menurut BPS, pada Agustus 2018 Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) untuk pendidikan SMK sebesar 11,24 persen yang
merupakan rangking pertama penyumbang pengangguran. Berikutnya sebagai
penyumbang TPT tertinggi ke-2 oleh pendidikan tingkat pendidikan Sekolah Menengah
Atas (SMA) sebesar 7,95 persen. Untuk tingkat pendidikan Diploma menyumbangkan
tingkat pengangguran sebesar 6,02 persen, dan tingkat pendidikan Universitas
sebesar 5,89 persen. Sedangkan untuk pendidikan tingkat rendah seperti halnya
SD ke bawah paling rendah sebesar 2,43 persen, hal ini karena pada tingkat
pendidikan ini cenderung bekerja apa saja.
Tantangan & Peluang
Menurut Rita Andriani Sitorus (2016),
Ada 6 (enam) permasalahan SMK yang mendasar saat ini yang perlu diambil
tindakan atau solusi dalam mengatasi permasalahan SMK tersebut untuk dapat
berdaya saing. Ke enam permasalahan SMK adalah: kurikulum SMK yang tidak
selaras dengan kebutuhan dunia usaha/dunia industri, kualitas lulusan SMK yang
rendah sehingga angka pengangguran SMK tinggi, pendirian SMK yang tidak sesuai
dengan kebutuhan daerah, kurangnya kuantitas dan kualitas guru produktif,
minimnya sarana dan prasarana SMK dan ketidaksinergian SMK dengan dunia
usaha/dunia industri dan pemerintah.
Permasalahan-permasalahan ini menjadi
tantangan untuk diambil tindakan dan solusi dalam mewujudkan harapan menjadikan
SMK sebagai lembaga vokasi yang berdaya saing ketenagakerjaan. Program
Revitalisasi SMK diharapkan sebagai problem solving (pemecah masalah) dalam
peningkatan kualitas layanan pendidikan dan pelatihan di SMK yang profesional
dan peta kebutuhan tenaga kerja bagi lulusan SMK, penyelarasan kurikulum SMK
sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, mempercepat sertifikasi
kompetensi bagi lulusan SMK, pendidik dan tenaga kependidikan SMK, meningkatkan
kuantitas dan kualitas guru produktif serta pemberian lisensi bagi SMK sebagai
lembaga sertifikasi profesi pihak pertama, memberikan kemudahan kepada
masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan SMK yang bermutu, penataan
kelembagaan SMK dan menguatkan sinergi antara SMK dengan dunia usaha/dunia
industri serta lembaga pemerintahan.
Semoga pelaksanaan program revitalisasi
SMK ini berjalan lancar sehingga dapat mewujudkan harapan-harapan ke depan,
diantaranya : menjadikan SMK sebagai sekolah pilihan masyarakat (orang tua dan
siswa) oleh karena banyaknya peluang-peluang untuk dapat bekerja di dunia usaha
dan dunia industri, menciptakan lulusan SMK yang berkualitas, yang
berkompetensi tinggi dan berkharakter sehingga menjadi tenaga kerja yang siap
bersaing di era global serta menghasilkan lulusan SMK yang memiliki keberanian
dan kemampuan berwirausaha.
Baca juga : Menakar Potensi Pemuda di Zaman "Now"
Sedangkan peluang pendidikan vokasi
menurut Prof. Slamet PH, MA mengungkapkan bahwa pendidikan vokasi sangat penting
karena Indonesia memerlukan tenaga kerja berkeahlian terapan yang melek
teknologi, luwes dan terampil yang selaras dengan dunia kerja dan sangat
turbulen baik sebagai karyawan maupun wirausahawan.
Industri Era Digital (Disrupsi) merupakan
peluang bagi generasi milenial termasuk lulusan SMK dan SMU untuk menangkap
peluang pasar tenaga kerja baru atau sebagai bisnis. Era revolusi digital atau
disebut sebagai era disrupsi teknologi ditandai dengan terjadinya transformasi
di segala bidang. Adanya era disrupsi teknologi mengakibatkan hilangnya lapangan
kerja tradisional akan tetapi menciptakan peluang lapangan usaha baru.
Berkaca dari keberhasilan para
generasi milenial menjadi perintis sekaligus menjadi CEO seperti di Bukalapak,
Grab, Traveloka. Sehingga lulusan SMK sebagai pndidikan vokasi bukan hanya
sebagai pencari kerja, tetapi memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi
digital untuk berbisnis.(*)
\*Penulis adalah Statistisi BPS Kabupaten Cianjur

0 Response to "#46 Inovasi Dalam Mengurangi Pengangguran"
Post a Comment