#39 (bukan) Salah Jarum


http://www.sitamat.com/


(bukan) Salah Jarum


Hari ini adalah hari kamis, pekerjaan bulan ini sudah hampir habis. Maksud hati bersilaturahmi dengan Pak Camat wilayah tugas baru setelah hampir 8 tahun di tempat lama, Tetapi cuaca diluar lumayan mendung namun tidak gerimis. Dengan niat optimis, kaki mulai dilangkahkan menuju motor dinas bekas pakai pegawai lama.

Motor sudah dipanaskan, pelindung kepala sudah dipakai, jaket dan tas tidak ketinggalan. Motor pun melaju dengan kecepatan sedang.  Sesekali Mata tertuju pada jarum indikator bensin yang menunjuk ke arah berwarna merah. Walau demikian, motor tetap melaju karena beberapa hari yang lalu sudah di isi bensin lumayan banyak. Dalam hati, Mungkin jarum indikator bensin sudah lelah.

Tidak berapa lama sampailah di tempat tujuan, tetapi kantor yang dituju ternyata sedang direnovasi, sudah beberapa hari. Tanpa ragu, kendaraan diparkir tepat di depan gedung tempat pelayanan. Dalam hati bergumam, sepertinya Pak Camat tidak ada ditempat. Setelah bertanya pada pegawai yang sedang berdiri di dekat meja pelayanan, ternyata memang benar Pak Camat sedang tidak ada di tempat.

Berhubung target tidak ada, maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor kelurahan terdekat. Jaraknya tidak jauh dari kantor Pak Camat. Sesampainya disana, tampak sebagian bangunan kantor baru saja selesai direnovasi, tinggal puing – puing bangunan yang tersisa di luar.

Dari luar tampak seorang pemuda dan ibu – ibu paruh baya sedang duduk di kursi antrian. Dengan gaya sopan, sepatah ucapan salam pun dilemparkan dari pintu masuk. Alhamdulilah, Pak Lurah sedang ada di ruangan. Begitu ucap salah satu penjaga.

Ibarat teman yang sudah lama kenal, perbincangan pun berlangsung tanpa basa basi. Ternyata Pak Lurah sudah tidak asing dengan istilah KSK. Syukurlah kalau begitu. Saya duduk di kursi tamu, Pak Lurah duduk tepat di depan KSK baru. Sambil mendengarkan lagu ber genre pop barat, sesekali sebatang rokok dihisapnya, entah berapa batang rokok yang sudah dihisap selama mengobrol, mungkin lebih dari 4 batang.

Waktu menunjukkan jam setengah dua belas, sebentar lagi masuk waktu sholat dzuhur. Perbincangan pun disudahi dengan salam koordinasi sambil berjabat tangan. Dari kantor kelurahan, perjalanan diarahkan kembali menuju kantor. Setelah melewati lampu merah, laju motor terus ditambah karena cuaca sudah mulai gerimis tipis – tipis.

Siang itu kendaraan lumayan padat, mungkin waktunya jam makan siang. Tepat didepan mata sebuah truk besar dan cukup panjang sedikit menghalangi laju motor. Tak mau berlama – lama, motor pun dipacu lebih kencang melewati bagian sebelah kiri truk. Anehnya, semakin kencang gas ditarik, mesin motor malah terasa mau mati. Dalam hati, mungkin mesin motor bermasalah.

Setelah melewati lampu merah berikutnya, tampak mobil Bis dan truk beriringan menghalangi kedua lajur jalan, laju motor pun kembali dipercepat agar tidak terlambat sholat. Semakin laju motor dipercepat, mesin motor kembali unjuk gigi. Gejalanya hampir sama dengan kejadian sebelumnya, mesin seolah mau mati. Mata tertuju pada jarum indikator bensin yang miring ke arah garis berwarna merah. Jangan – jangan memang bensinnya sudah mulai menipis.

Menurut perkiraan, tempat pengisian bensin masih berjarak dua kilometer lagi. Motor dilaju cukup pelan. Dengan sedikit tersendat – sendat, Alhamdulilah sampai juga di tempat pengisian bensin. Rasa penasaran tertuju pada tangki motor yang pernah diisi bensin beberapa hari yang lalu. Ebuset dah, ternyata bensinnya memang sudah habis. Hehehe.(*)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#39 (bukan) Salah Jarum"

Post a Comment