(bukan) Salah Jarum
Hari ini adalah hari kamis, pekerjaan
bulan ini sudah hampir habis. Maksud hati bersilaturahmi dengan Pak Camat
wilayah tugas baru setelah hampir 8 tahun di tempat lama, Tetapi cuaca diluar
lumayan mendung namun tidak gerimis. Dengan niat optimis, kaki mulai dilangkahkan
menuju motor dinas bekas pakai pegawai lama.
Motor sudah dipanaskan, pelindung
kepala sudah dipakai, jaket dan tas tidak ketinggalan. Motor pun melaju dengan
kecepatan sedang. Sesekali Mata tertuju
pada jarum indikator bensin yang menunjuk ke arah berwarna merah. Walau
demikian, motor tetap melaju karena beberapa hari yang lalu sudah di isi bensin
lumayan banyak. Dalam hati, Mungkin jarum indikator bensin sudah lelah.
Tidak berapa lama sampailah di tempat
tujuan, tetapi kantor yang dituju ternyata sedang direnovasi, sudah beberapa
hari. Tanpa ragu, kendaraan diparkir tepat di depan gedung tempat pelayanan. Dalam
hati bergumam, sepertinya Pak Camat tidak ada ditempat. Setelah bertanya pada
pegawai yang sedang berdiri di dekat meja pelayanan, ternyata memang benar Pak
Camat sedang tidak ada di tempat.
Berhubung target tidak ada, maka
diputuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor kelurahan terdekat. Jaraknya
tidak jauh dari kantor Pak Camat. Sesampainya disana, tampak sebagian bangunan kantor
baru saja selesai direnovasi, tinggal puing – puing bangunan yang tersisa di
luar.
Dari luar tampak seorang pemuda dan
ibu – ibu paruh baya sedang duduk di kursi antrian. Dengan gaya sopan, sepatah
ucapan salam pun dilemparkan dari pintu masuk. Alhamdulilah, Pak Lurah sedang
ada di ruangan. Begitu ucap salah satu penjaga.
Ibarat teman yang sudah lama kenal,
perbincangan pun berlangsung tanpa basa basi. Ternyata Pak Lurah sudah tidak
asing dengan istilah KSK. Syukurlah kalau begitu. Saya duduk di kursi tamu, Pak
Lurah duduk tepat di depan KSK baru. Sambil mendengarkan lagu ber genre pop
barat, sesekali sebatang rokok dihisapnya, entah berapa batang rokok yang sudah
dihisap selama mengobrol, mungkin lebih dari 4 batang.
Waktu menunjukkan jam setengah dua
belas, sebentar lagi masuk waktu sholat dzuhur. Perbincangan pun disudahi
dengan salam koordinasi sambil berjabat tangan. Dari kantor kelurahan,
perjalanan diarahkan kembali menuju kantor. Setelah melewati lampu merah, laju
motor terus ditambah karena cuaca sudah mulai gerimis tipis – tipis.
Siang itu kendaraan lumayan padat,
mungkin waktunya jam makan siang. Tepat didepan mata sebuah truk besar dan
cukup panjang sedikit menghalangi laju motor. Tak mau berlama – lama, motor pun
dipacu lebih kencang melewati bagian sebelah kiri truk. Anehnya, semakin
kencang gas ditarik, mesin motor malah terasa mau mati. Dalam hati, mungkin mesin
motor bermasalah.
Setelah melewati lampu merah
berikutnya, tampak mobil Bis dan truk beriringan menghalangi kedua lajur jalan,
laju motor pun kembali dipercepat agar tidak terlambat sholat. Semakin laju
motor dipercepat, mesin motor kembali unjuk gigi. Gejalanya hampir sama dengan
kejadian sebelumnya, mesin seolah mau mati. Mata tertuju pada jarum indikator
bensin yang miring ke arah garis berwarna merah. Jangan – jangan memang bensinnya
sudah mulai menipis.
Menurut perkiraan, tempat pengisian
bensin masih berjarak dua kilometer lagi. Motor dilaju cukup pelan. Dengan sedikit
tersendat – sendat, Alhamdulilah sampai juga di tempat pengisian bensin. Rasa penasaran
tertuju pada tangki motor yang pernah diisi bensin beberapa hari yang lalu. Ebuset dah, ternyata bensinnya memang sudah
habis. Hehehe.(*)

0 Response to "#39 (bukan) Salah Jarum"
Post a Comment