#68 Menyoal Konsumsi Rokok di Tengah Pandemi

 

Menyoal Konsumsi Rokok di Tengah Pandemi

Menyoal Konsumsi Rokok di Tengah Pandemi

(Oleh : Kosih Kosasih)

Kita semua tahu bahwa rokok memiliki banyak dampak buruk bagi orang yang mengonsumsinya. Kendati Indonesia berupaya mengurangi jumlah perokok, faktanya jumlah perokok justru semakin meningkat, baik di tingkat dewasa maupun anak – anak.

Berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, proporsi perokok diatas usia 10 tahun mencapai 24,3 persen dan perokok usia 25 – 44 tahun memiliki proporsi paling besar yaitu diatas 30 persen.

Ironisnya, berdasarkan global youth tobacco survey, saat ini Indonesia menempati posisi jumlah perokok tertinggi ketiga di dunia, di bawah China dan India. Bahkan laporan southeast asia tobacco control alliance (SEATCA) yang dirilis pada tahun 2019, berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang, disusul oleh Filipina (16,5 juta orang) dan Vietnam (15,6 juta orang).

Konsumsi Rokok di Tengah Pandemi

Hampir setahun pandemi Covid-19 dialami oleh Indonesia, alih – alih konsumsi makanan bergizi meningkat, nyatanya pandemi tak menyebabkan konsumsi masyakat terhadap rokok berkurang.

Yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, sebanyak 12,4 persen pendapatan masyarakat menengah ke bawah digunakan untuk mengkonsumsi rokok di tengah ancaman krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Hal ini menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan diri masih sangat rendah.

Ketua pengurus harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan, jumlah uang yang digunakan untuk membeli rokok tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan pengeluaran untuk membeli kebutuhan lauk pauk.

Lebih lanjut hasil survei yang dilakukan oleh Komite Nasional Pengendalian Tembakau menemukan bahwa pandemi Covid-19 sama sekali tidak mengubah perilaku merokok pada perokok, bahkan cenderung meningkat.

Dampak Mengkonsumsi Rokok di Tengah Pandemi

Tanpa disadari para perokok, semakin mereka memperkuat konsumsi rokok di tengah pandemi Covid-19 ini, semakin besar risiko terinfeksi Covid-19 dan juga semakin mempersulit kondisi perekonomiannya.

Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) memperingatkan bahwa perokok memiliki risiko lebih tinggi jika terjangkit virus corona. WHO menjelaskan tinjauan studi oleh para ahli kesehatan menemukan bahwa perokok yang terjangkit Covid-19 memiliki risiko lebih untuk mengembangkan penyakit menjadi lebih parah dibandingkan bukan perokok.

Covid-19 adalah penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan terutama paru – paru. Adapun aktivitas merokok merusak fungsi paru – paru sehingga membuat tubuh lebih sulit untuk melawan virus corona dan penyakit lainnya. Merokok tembakau adalah faktor risiko yang dapat menimbulkan banyak infeksi pernapasan dan meningkatkan keparahan penyakit pernapasan.

Baca juga : Konsumsi Rokok VS Kemiskinan

Menurut ketua perhimpunan ikatan dokter paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, setidaknya ada empat poin penting yang menyebabkan merokok dapat memperparah infeksi Covid-19.

Pertama, rokok mengaktifkan reseptor ACE-2 sebagai sel inang virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 hidup dan berkembangbiak secara aktif. Kedua, rokok dapat menyebabkan gangguan sistem imunitas, terutama pada saluran nafas dan paru-paru akibat asap rokok, dimana sistem imunitas yang terganggu akan memperbesar risiko terinfeksi Covid-19.

Ketiga, rokok sudah sejak lama diketahui dan terbukti menyebabkan ragam penyakit komorbid, seperti penyakit kardiovaskular (jantung), diabetes, hipertensi, stroke, penyakit paru obstruktif kronik (ppok), dan lain sebagainya.

Keempat, kebiasaan menyentuh mulut ketika sedang merokok juga bisa meningkatkan risiko infeksi Covid-19. Apalagi jika dilakukan tanpa mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu.

Tidak hanya kesehatan, rokok juga memiliki dampak lain terhadap ekonomi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa total kerugian karena rokok selama 2015 mencapai hampir Rp 600 triliun atau empat kali lipat lebih dari jumlah cukai rokok. Kerugian ini meningkat 63 persen dari kerugian dua tahun sebelumnya.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pengeluaran untuk konsumsi rokok pada tahun 2020 menempati urutan kedua diatas padi – padian pada kelompok makanan. Bahkan 2,1 kali lipat dari pengeluaran telur dan susu, serta 2,8 kali lipat dari pengeluaran untuk konsumsi daging.

Ironisnya, konsumsi rokok di Indonesia memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan (GK) baik di perkotaan maupun di perdesaan. Hal ini dianggap buruk, karena penduduk yang berkategori miskin rentan pada berbagai kondisi atau situasi lebih buruk lainnya, bahkan bisa memperparah kemiskinan terutama di tengah pandemi saat ini.

Baca juga : Mengais Manfaat Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Oleh karena itu, Komnas Pengendalian Tembakau menyampaikan sejumlah saran kepada pemerintah berkaitan dengan perilaku merokok dan pembelanjaan rokok di masyarakat, antara lain melakukan edukasi rumah bebas asap rokok, perluasan kawasan tanpa rokok disertai edukasi tentang bahaya rokok, dan pembatasan akses pembelian rokok.

Komnas Pengendalian Tembakau juga menyarankan untuk meningkatkan edukasi berhenti merokok dan menyediakan layanan berhenti merokok pada layanan kesehatan tingkat pertama dan meningkatkan ukuran peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok sesuai dengan peta jalan pengendalian tembakau. Selain itu, pengendalian konsumsi rokok juga perlu dimasukkan dalam pedoman penanganan Covid-19 oleh seluruh satuan tugas di pusat maupun di daerah.

Berbagai upaya untuk menekan prevalensi perokok di Indonesia harus terus dilakukan. Integrasi penerapan dan pengawasan kebijakan rokok perlu ditingkatkan dengan terus menjalin kemitraan dari pemerintah dengan seluruh stakeholder baik di tingkat pusat maupun daerah, sejalan dengan visi Indonesia emas 2045 pada pilar pertama yaitu pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK terlebih saat ini penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z dan milenial, tentunya dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas agar visi tersebut dapat tercapai. (*)

(Artikel terbit di koran Radar Sukabumi edisi Rabu 24 Februari 2021)



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "#68 Menyoal Konsumsi Rokok di Tengah Pandemi"

  1. Thanks so much pertaining to giving me an update on this subject on your website. Please understand that if a completely new post becomes available or in case any improvements occur on the current submission, I would be interested in reading more and knowing how to make good using of those strategies you talk about. Thanks for your time and consideration of others by making this web site available. Online Headshop

    ReplyDelete