Mengais Manfaat Bonus Demografi di Tengah Pandemi
Satu
diantara tujuh agenda pembangunan yang ditetapkan Pemerintah dalam Rancangan
Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020 – 2024 adalah fokus terhadap
pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM). SDM berkualitas menjadi
salah satu kunci untuk mewujudkan visi Indonesia maju setelah sebelumnya pemerintah
menggenjot infrastruktur pada periode pertama dengan anggaran yang sangat besar.
Kita
patut berbangga, karena sejak tanggal 1 Juli 2019, World Bank menetapkan
Indonesia dari kategori negara berpenghasilan rendah (lower middle income country)
menjadi negara berpenghasilan menengah (upper middle income country)
seperti Negara Malaysia, Thailand bahkan China yang sudah berada pada level ini
terlebih dahulu. Hal ini tak lain akibat naiknya Gross National Income
(GNI) per kapita Indonesia dari 3.840 US$ menjadi 4.050 US$.
Kondisi
ini memungkinkan bagi Pemerintah untuk mewujudkan visi Indonesia maju 2045 jika
seluruh elemen masyarakat mulai dari Pemerintah pusat hingga Daerah mampu
bersinergi di berbagai aspek pembangunan, terlebih saat ini Indonesia berada
pada fase Bonus Demografi, yaitu era keemasan secara konsep kependudukan,
dimana jumlah penduduk usia produktif (usia 15 – 64 tahun) lebih banyak
dibandingkan usia non produktif (0 – 14 tahun dan 65 tahun ke atas).
Hasil
Sensus Penduduk 2020 (SP2020) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat dari populasi penduduk Indonesia sebanyak 270,20 juta jiwa,
70,72 persen diantaranya adalah penduduk usia produktif. Lebih lanjut jika
dilihat dari komposisi penduduk menurut generasi, SP2020 mencatat penduduk
Indonesia saat ini didominasi oleh penduduk yang lahir antara tahun 1997 – 2012
atau usia 8 – 23 tahun (generasi Z), dan penduduk yang lahir antara
tahun 1981 – 1986 atau usia 24 – 39 tahun (milenial). Hal ini tentu
menjadi modal yang sangat penting sekaligus tantangan yang cukup besar bagi pemerintah
untuk bisa mengelola sumber daya manusia yang dimiliki saat ini.
Pemerintah
tentu menyadari akan modal sumber daya yang ada. Oleh karena itu, sejak
terpilihnya kembali menjadi Presiden RI untuk kedua kalinya, Presiden melalui
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas), telah menyusun tujuh agenda pembangunan
nasional 2020 – 2024, mulai dari ketahanan ekonomi, kewilayahan, ketimpangan,
sumber daya manusia, kebudayaan, infrastruktur, lingkungan hidup serta politik,
hukum, dan keamanan untuk mewujudkan visi Indonesia maju.
Namun
kita tidak menyangka, pandemi covid-19 yang melanda Indonesia sejak bulan Maret
2020 lalu hampir meluluh lantahkan berbagai sendi kehidupan, terutama sektor
ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan laju pertumbuhan ekonomi (LPE)
Indonesia secara berturut – turut mengalami kontraksi di setiap kuartal, hingga
diawal tahun 2021, BPS merilis pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 berada pada
angka minus 2,07 persen.
Sepanjang
tahun 2020, Pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk penanganan
pandemi covid-19, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penerapan
standar protokol kesehatan, refocusing anggaran untuk disalurkan kepada
masyarakat secara langsung demi menjaga stabilitas konsumsi masyarakat ditengah
pandemi, hingga program vaksinasi yang sedang berjalan di tahun 2021 ini.
Baca juga : #66 Pandemi Covid-19 Merubah Gaya Hidup?
Tidak
ada yang bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Selama program
pencegahan penyebaran dan penanganan covid-19 hanya menjadi teori dan himbauan
semata, sudah barang tentu covid-19 masih betah singgah di Indonesia.
Ditengah
situasi seperti ini, tentu diperlukan peran serta masyarakat terutama bagi
generasi muda (generasi Z dan Milenial) untuk berperan aktif
dalam mendukung pencegahan penyebaran serta penanganan covid-19. Lebih dari
itu, generasi muda diharapkan mampu membuat solusi ditengah pandemi dalam
berbagai aspek kehidupan untuk menjaga roda perekonomian bangsa agar tetap
berjalan.
Kita
tidak bisa menghindari penggunaan teknologi yang lebih dominan dibanding
sebelum adanya pandemi karena keterbatasan ruang gerak akibat pembatasan
sosial. Bagaimanapun, pandemi ini sudah mejadi katalisator proses digitalisasi
di berbagai sendi kehidupan. Oleh karena itu, banyak peran yang bisa dilakukan
oleh generasi muda pada situasi pandemi saat ini. Misalnya, mengoptimalkan
pemanfaatan teknologi informasi di berbagai sektor perekonomian seperti
pendidikan, perdagangan, industri, pertanian dan lain sebagainya.
Kondisi
pemuda saat ini jika dilihat berdasarkan pendidikan, mayoritas pemuda Indonesia
telah menamatkan pendidikannya hingga sekolah menengah atau sederajat (38,77
persen) dan sekolah menengah pertama atau sederajat (35,41 persen). Data lain menunjukkan,
setidaknya 94,55 persen pemuda di Indonesia menggunakan hand phone (HP)
di berbagai aktivitas kesehariannya, dan dari seluruh pemuda yang ada, 88,77
persen diantaranya memiliki HP. Selain itu, terdapat pula sekitar 26,45 persen
pemuda yang menggunakan komputer dan 85,62 persen pemuda menggunakan internet
(Statistik Pemuda Indonesia, 2020).
Baca juga : #64 Covid-19 Gerus Daya Beli Masyarakat?
Lebih
lanjut hasil survei sosial demografi dampak covid-19 2020 menunjukkan, 31
persen responden mengalami peningkatan dalam melakukan aktivitas belanja online
untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya, dan aktivitas tersebut didominasi
oleh penduduk generasi milenial. Kondisi ini menunjukkan terjadi
peningkatan penggunaan teknologi (HP) serta pola hidup masyarakat khususnya
pada generasi muda di masa pandemi.
Dengan
melihat fakta yang ada, pemerintah seyogianya memberikan ruang kepada generasi
muda untuk terlibat dalam berbagai peran pembangunan melalui bentuk program
nyata atau regulasi lainnya agar roda perekonomian bangsa tetap berjalan,
bahkan lebih jauh lagi meningkatkan produktivitas ekonomi penduduknya, sehingga
fase bonus demografi yang diprediksi akan terus berlangsung hingga tahun 2030
nanti bukan hanya sekedar kata – kata tanpa makna, juga bukan hanya sebatas
wacana, tetapi dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menjadikan Indonesia
mampu bertahan dikala pandemi serta menjelma menjadi bangsa yang maju di masa
yang akan datang.(*)
*Artikel terbit pada koran Radar Sukabumi edisi Rabu 10 Februari 2021
(Penulis adalah Statistisi Muda pada BPS Kab. Sukabumi)


0 Response to "#67 Mengais Manfaat Bonus Demografi di Tengah Pandemi"
Post a Comment