#67 Mengais Manfaat Bonus Demografi di Tengah Pandemi


Mengais Manfaat Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Satu diantara tujuh agenda pembangunan yang ditetapkan Pemerintah dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020 – 2024 adalah fokus terhadap pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM). SDM berkualitas menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan visi Indonesia maju setelah sebelumnya pemerintah menggenjot infrastruktur pada periode pertama dengan anggaran yang sangat besar.

Kita patut berbangga, karena sejak tanggal 1 Juli 2019, World Bank menetapkan Indonesia dari kategori negara berpenghasilan rendah (lower middle income country) menjadi negara berpenghasilan menengah (upper middle income country) seperti Negara Malaysia, Thailand bahkan China yang sudah berada pada level ini terlebih dahulu. Hal ini tak lain akibat naiknya Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia dari 3.840 US$ menjadi 4.050 US$.

Kondisi ini memungkinkan bagi Pemerintah untuk mewujudkan visi Indonesia maju 2045 jika seluruh elemen masyarakat mulai dari Pemerintah pusat hingga Daerah mampu bersinergi di berbagai aspek pembangunan, terlebih saat ini Indonesia berada pada fase Bonus Demografi, yaitu era keemasan secara konsep kependudukan, dimana jumlah penduduk usia produktif (usia 15 – 64 tahun) lebih banyak dibandingkan usia non produktif (0 – 14 tahun dan 65 tahun ke atas).

Hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dari populasi penduduk Indonesia sebanyak 270,20 juta jiwa, 70,72 persen diantaranya adalah penduduk usia produktif. Lebih lanjut jika dilihat dari komposisi penduduk menurut generasi, SP2020 mencatat penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh penduduk yang lahir antara tahun 1997 – 2012 atau usia 8 – 23 tahun (generasi Z), dan penduduk yang lahir antara tahun 1981 – 1986 atau usia 24 – 39 tahun (milenial). Hal ini tentu menjadi modal yang sangat penting sekaligus tantangan yang cukup besar bagi pemerintah untuk bisa mengelola sumber daya manusia yang dimiliki saat ini.

Pemerintah tentu menyadari akan modal sumber daya yang ada. Oleh karena itu, sejak terpilihnya kembali menjadi Presiden RI untuk kedua kalinya, Presiden melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), telah menyusun tujuh agenda pembangunan nasional 2020 – 2024, mulai dari ketahanan ekonomi, kewilayahan, ketimpangan, sumber daya manusia, kebudayaan, infrastruktur, lingkungan hidup serta politik, hukum, dan keamanan untuk mewujudkan visi Indonesia maju.

Namun kita tidak menyangka, pandemi covid-19 yang melanda Indonesia sejak bulan Maret 2020 lalu hampir meluluh lantahkan berbagai sendi kehidupan, terutama sektor ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Indonesia secara berturut – turut mengalami kontraksi di setiap kuartal, hingga diawal tahun 2021, BPS merilis pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 berada pada angka minus 2,07 persen.

Sepanjang tahun 2020, Pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk penanganan pandemi covid-19, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penerapan standar protokol kesehatan, refocusing anggaran untuk disalurkan kepada masyarakat secara langsung demi menjaga stabilitas konsumsi masyarakat ditengah pandemi, hingga program vaksinasi yang sedang berjalan di tahun 2021 ini.

Baca juga : #66 Pandemi Covid-19 Merubah Gaya Hidup?

Tidak ada yang bisa memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Selama program pencegahan penyebaran dan penanganan covid-19 hanya menjadi teori dan himbauan semata, sudah barang tentu covid-19 masih betah singgah di Indonesia.

Ditengah situasi seperti ini, tentu diperlukan peran serta masyarakat terutama bagi generasi muda (generasi Z dan Milenial) untuk berperan aktif dalam mendukung pencegahan penyebaran serta penanganan covid-19. Lebih dari itu, generasi muda diharapkan mampu membuat solusi ditengah pandemi dalam berbagai aspek kehidupan untuk menjaga roda perekonomian bangsa agar tetap berjalan.

Kita tidak bisa menghindari penggunaan teknologi yang lebih dominan dibanding sebelum adanya pandemi karena keterbatasan ruang gerak akibat pembatasan sosial. Bagaimanapun, pandemi ini sudah mejadi katalisator proses digitalisasi di berbagai sendi kehidupan. Oleh karena itu, banyak peran yang bisa dilakukan oleh generasi muda pada situasi pandemi saat ini. Misalnya, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi di berbagai sektor perekonomian seperti pendidikan, perdagangan, industri, pertanian dan lain sebagainya.

Kondisi pemuda saat ini jika dilihat berdasarkan pendidikan, mayoritas pemuda Indonesia telah menamatkan pendidikannya hingga sekolah menengah atau sederajat (38,77 persen) dan sekolah menengah pertama atau sederajat (35,41 persen). Data lain menunjukkan, setidaknya 94,55 persen pemuda di Indonesia menggunakan hand phone (HP) di berbagai aktivitas kesehariannya, dan dari seluruh pemuda yang ada, 88,77 persen diantaranya memiliki HP. Selain itu, terdapat pula sekitar 26,45 persen pemuda yang menggunakan komputer dan 85,62 persen pemuda menggunakan internet (Statistik Pemuda Indonesia, 2020).

Baca juga : #64 Covid-19 Gerus Daya Beli Masyarakat?

Lebih lanjut hasil survei sosial demografi dampak covid-19 2020 menunjukkan, 31 persen responden mengalami peningkatan dalam melakukan aktivitas belanja online untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya, dan aktivitas tersebut didominasi oleh penduduk generasi milenial. Kondisi ini menunjukkan terjadi peningkatan penggunaan teknologi (HP) serta pola hidup masyarakat khususnya pada generasi muda di masa pandemi.

Dengan melihat fakta yang ada, pemerintah seyogianya memberikan ruang kepada generasi muda untuk terlibat dalam berbagai peran pembangunan melalui bentuk program nyata atau regulasi lainnya agar roda perekonomian bangsa tetap berjalan, bahkan lebih jauh lagi meningkatkan produktivitas ekonomi penduduknya, sehingga fase bonus demografi yang diprediksi akan terus berlangsung hingga tahun 2030 nanti bukan hanya sekedar kata – kata tanpa makna, juga bukan hanya sebatas wacana, tetapi dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menjadikan Indonesia mampu bertahan dikala pandemi serta menjelma menjadi bangsa yang maju di masa yang akan datang.(*)

*Artikel terbit pada koran Radar Sukabumi edisi Rabu 10 Februari 2021

(Penulis adalah Statistisi Muda pada BPS Kab. Sukabumi)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#67 Mengais Manfaat Bonus Demografi di Tengah Pandemi"

Post a Comment