#66 Pandemi Covid-19 Merubah Gaya Hidup?

Pandemi Covid-19 Merubah Gaya Hidup?




Pandemi Covid-19 Merubah Gaya Hidup?


Tidak dimungkiri Pandemi Covid-19 lambat laun sudah merubah tatanan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejak diumumkannya Pendemi Covid-19 sebagai darurat kesehatan Nasional, Pemerintah menghimbau seluruh masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah. Bahkan bekerja, sekolah, dan beribadah pun dihimbau dari rumah saja.

Dalam dunia kerja, setidaknya Pandemi Covid-19 sudah membuat pola kerja baru. Baik dalam memonitor pegawai atau pekerjaan. Mekanisme Work From Home (WFH) menjadi salah satu pilihan dalam situasi seperti ini. Hampir semua ASN sudah menerapkan WFH.

Teknologi Informasi dan Komunikasi berperan dalam menunjang keberlangsungan pekerjaan. Seperti penggunaan aplikasi dalam melakukan absensi, rapat, bahkan pengumpulan data yang biasanya dilakukan tatap muka dialihkan menjadi online atau via telepon.

Selain itu, sektor Pendidikan pun turut serta menyesuaikan tata kelola kegiatan pembelajaran di Sekolah. Siswa dihimbau untuk belajar dari rumah. Dengan cepat, sekolah membuat mekanisme baru dalam proses belajar mengajar. Kegiatan kelas tatap muka dialihkan menjadi kelas online. Ada yang membuat kelas online seperti google class room atau bahkan sekedar grup WA per kelas.

Guru dituntut kreatif memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan bahan pembelajaran kepada muridnya. Begitupun anak didiknya, murid “dipkasa” menyesuaikan metode pembelajaran tatap muka menjadi metode online.

Tidak sedikit orang tua atau murid yang stress dengan adanya penyesuaian metode pembelajaran di masa Pandemic Covid-19 ini. Pasalnya, tidak semua orang tua atau murid melek teknologi sehingga metode ini menjadi beban baru.
Selain itu, konsumsi perangkat teknologi dan pulsa/kuota meningkat. Faktanya, tidak semua orang tua/murid memiliki perangkat teknologi atau bahkan tidak mampu menaikkan jumlah konsumsi pulsa/kuota dari biasanya. Hal ini tentu menjadi masalah baru dimana masyarakat dihimbau untuk tetap beraktivitas di rumah, sedangkan kebutuhan ekonomi tidak bisa dihasilkan sepenuhnya dari rumah.

Sebetulnya, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi sudah banyak digunakan di berbagai sektor sebelum Pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Khususnya pada sektor usaha. Tengok saja sektor industri, banyak yang sudah mengalihkan tenaga manusia ke tenaga mesin. E-commerce menjamur dimana – mana, bahkan transaksi keuangan pun berada dalam gengaman tangan melalui perangkat android.

Pengunaan Teknologi, Informasi dan Komunikasi

Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tentunya dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas di berbagai sektor. Namun, sepanjang perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia, sejauh mana masyarakat bisa mengakses atau memanfaatkan kemudahan ini?

Pada tataran global, Indeks Pembangunan TIK Indonesia tahun 2016 menempati peringkat ke 111 dari 176 Negara (ITU, Measuring Information Society 2017). Lebih rendah bila dibandingkan dengan Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darusalam.

Dikutip dari publikasi Statistik Telekomunikasi Indonesia 2018, penggunaan TIK oleh rumah tangga di Indonesia dalam lima tahun terkahir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Terjadi peningkatan dalam hal kepemilikan, penggunaan, serta akses terhadap internet.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 menunjukkan, rumah tangga yang mengakses internet yaitu sebesar 66,22 persen. Hal ini diikuti pula oleh persentase jumlah penduduk yang menggunakan telepon selular, yaitu sebesar 62,41 persen. Sedangkan penduduk yang mengakses internet sebanyak 39,90 persen.
Bila ditelisik lebih dalam berdasarkan klasifikasi daerah, 53,61 persen penduduk di pedesaan menggunakan telepon selular, sedangkan penduduk di perkotaan yang menggunakan telepon selular sebesar 69,66 persen. Selain itu, sejumlah 26,56 persen penduduk di Pedesaan mengakses internet, sedangkan 50,92 persen penduduk mengkases internet di Perkotaan.

Dalam kondisi normal saja, perkembangan TIK di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat. Terlebih saat ini dalam menghadapi situasi Pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat tetap beraktivitas di rumah. Setidaknya pengunaan internet akan meningkat. Tentunya diiringi dengan meningkatnya penggunaan alat (telepon selular atau komputer) untuk mengkases internet.

Mau tidak mau, masyarakat harus mulai terbiasa dengan perubahan gaya hidup dari pola konvensional menjadi serba digital. Smart City, Desa digital atau istilah lain pernah digaungkan oleh beberapa Pemerintah Daerah. Namun pelaksanaannya masih belum optimal. Selain tidak menjadikan kebutuhan, pola konvensional masih menjadi pilihan.

Selama Pandemi Covid-19 belum berakhir, tentunya pembatasan – pembatasan aktivitas akan terus dilakukan, tetapi kita akan sampai pada titik jenuh bila tetap mempertahankan cara konvensional. Pola digital menjadi salah satu pilihan untuk tetap bertahan dari berbagai aspek kehidupan namun penggunaannya dibutuhkan suatu panduan agar tidak keluar dari tujuan.(*)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "#66 Pandemi Covid-19 Merubah Gaya Hidup?"

  1. What to do at a casino in Las Vegas
    The casinos on 승인 전화 없는 사이트 this 바카라필승법 list have a 우리계열 number of slots, slots, 피망 포커 다운 table games, and video poker games, but a 실시간 배팅 few of them are games that are played on mobile devices.

    ReplyDelete