#61 Sensus Penduduk 2020 diantara Pandemic COVID-19



Sensus Penduduk 2020 diantara Pandemic COVID-19


            Belum lama ini, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, mengungkapkan bahwa jumlah positif Corona di Indonesia pada Juli 2020 diperkirakan lebih dari 100 ribu kasus. Perhitungan ini berdasarkan hasil pemodelan penularan COVID-19 yang dibuat oleh Badan Intelijen Negara (BIN) berdasarkan data sejak ditemukannya warga Indonesia positif Corona.

            Pemodelan tersebut diungkapkan dalam rapat kerja dengan komisi IX DPR RI, yang digelar secara virtual, Kamis (2/4/2020). Dalam data itu disebutkan bahwa puncak kasus positif Corona akan terjadi pada Mei, dengan penambahan jumlah kasus dari April ke Mei sebanyak 68.144.

Sensus Penduduk 2020

            Dampak meluasnya penularan COVID-19 di Indonesia dirasakan oleh berbagai Lembaga Negara, tidak terkecuali Badan Pusat Statistik (BPS). Bersamaan dengan rilis berbagai indicator strategis, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyampaikan, BPS memutuskan untuk memperpanjang pelaksanaan Sensus Penduduk Online (SP Online) yang semula dilaksanakan 15 Februari – 31 Maret, menjadi 15 Februari – 29 Mei 2020. Sedangkan Sensus Penduduk Wawancara (SP Wawancara) mengalami penyesuaian dari 1 – 31 Juli menjadi 1 – 30 September 2020.

            Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbesar cakupan jumlah penduduk yang dapat mengisi SP Online. Dengan semakin banyaknya penduduk yang berpartisipasi dalam pengisian SP Online akan mengurangi risiko penyebaran COVID-19 bagi petugas sensus dan atau masyarakat sebagai responden pada saat pelaksanaan SP Wawancara.

Tantangan Sensus Penduduk 2020

            Ditengah ingar – bingar berita penyebaran COVID-19 di berbagai media, hastag “MencatatIndonesia” sebagai bagian dari kampanye Sensus Penduduk 2020 seolah lenyap ditelan Corona. Sejak diumumkan oleh Presiden Jokowi di awal Maret ada penduduk Indonesia yang positif terjangkit virus Corona, sontak pamor Sensus Penduduk kian hari semakin tersisihkan, padahal saat itu sedang berlangsung SP Online.

            Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi BPS pada umumnya. Melaksanakan hajatan sepuluh tahunan ditengah pandemic COVID-19. Sudah barang tentu situasi ini akan menjadi goresan sejarah Bangsa Indonesia. Selain metode Kombinasi yang diterapkan pada SP2020, juga pelaksanaannya bersamaan dengan perang melawan makhluk yang tidak terlihat kasat mata (virus Corona).

Disatu sisi, penanganan penyebaran COVID-19 menjadi hal yang sangat urgen saat ini. Seluruh elemen masyarakat terlibat, regulasi dibuat, bahkan tak sedikit yang menghujat Pemerintah atas kebijakan yang dibuat. Namun, SP2020 tetap harus berjalan.

Perlu dibangun sebuah isu kampanye baru agar masyarakat kembali melirik dan tertarik pada pelaksanaan SP2020. Seperti halnya hastag “diRumahAja” yang diangkat Pemerintah agar masyarakat tetap berkegiatan di rumah saja dengan tujuan memutus penyebaran COVID-19, SP2020 pun mesti mencuat kembali ke permukaan agar masyarakat sadar bahwa saat ini masih berlangsung SP2020 khususnya SP Online.

Hal ini tentunya perlu kerjasama dan semangat lebih dari setiap elemen di BPS. Disamping “gempuran” pekerjaan rutin yang tidak mengenal “izin”, SP Online mesti didorong lebih kuat agar banyak masyarakat berpartisipasi. Selain menyadarkan pentingnya sebuah data, meminimalkan tatap muka antara petugas SP Wawancara dengan masyarakat perlu dilakukan ditengah penanganan penyebaran COVID-19.

Bila rumus Pemodelan COVID-19 yang dibuat oleh BIN dapat menggambarkan kasus penyakit virus corona secara tepat, maka titik puncak wabah ini terjadi pada bulan Juli 2020. Maka, setelah bulan Juli grafik kasus COVID-19 mestinya mulai landai atau menurun, artinya kasus penyakit virus corona mulai berkurang. Tentunya dalam kondisi seperti ini, masyarkat tetap akan dihimbau untuk beraktifitas di rumah saja.

Hal ini menjadi tantangan baru bagi BPS menjelang pelaksanaan Sensus Penduduk Wawancara yang akan berlangsung pada bulan September. Perlu melatih petugas lapangan sebelum data dikumpulkan. Mungkin pelatihan daring atau online perlu dikaji.

            Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto menyampaikan dalam koferensi pers bahwa BPS saat ini tengah mengkaji kemungkinan pelatihan online bagi petugas sensus. Tentunya ini tidak mudah, selain infrastruktur yang harus memadai, kemampuan petugas sensus dalam menyerap materi perlu dipertimbangkan.

            Tidak ada yang mengharapkan kedatangan tamu tak diundang COVID-19 ditengah hajatan Bangsa Indonesia sepuluh tahunan, Sensus Penduduk 2020.  Tetapi, virus corona sudah menyebar luas di Negeri ini. Kita tidak bisa tinggal diam dan hanya menjadi penonton. Dibutuhkan partisipasi aktif dari setiap masing – masing individu terutama insan BPS di seluruh pelosok Negeri. Selain menjaga diri dari COVID-19, mari bersama mengambil peran untuk menyebarkan informasi dan mengajak masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan SP2020 terutama SP Online, dimulai dari keluarga, tetangga, saudara, sahabat, grup WA, FB, dan media social lainnya. Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT dan pandemic COVID-19 cepat berlalu. Aamiin.(*)

Sukabumi, 4 April 2020

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "#61 Sensus Penduduk 2020 diantara Pandemic COVID-19"

Post a Comment