Sensus
Penduduk 2020 diantara Pandemic COVID-19
Belum lama ini, Kepala Gugus Tugas
Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, mengungkapkan
bahwa jumlah positif Corona di Indonesia pada Juli 2020 diperkirakan lebih dari
100 ribu kasus. Perhitungan ini berdasarkan hasil pemodelan penularan
COVID-19
yang
dibuat oleh Badan Intelijen Negara (BIN) berdasarkan data sejak ditemukannya
warga Indonesia positif Corona.
Pemodelan tersebut diungkapkan
dalam rapat kerja dengan komisi IX DPR RI, yang digelar secara virtual, Kamis
(2/4/2020). Dalam data itu disebutkan bahwa puncak kasus positif Corona akan
terjadi pada Mei, dengan penambahan jumlah kasus dari April ke Mei sebanyak
68.144.
Sensus
Penduduk 2020
Dampak meluasnya penularan
COVID-19 di Indonesia dirasakan oleh berbagai Lembaga Negara, tidak terkecuali
Badan Pusat Statistik (BPS). Bersamaan dengan rilis berbagai indicator strategis,
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyampaikan, BPS memutuskan untuk memperpanjang
pelaksanaan Sensus Penduduk Online (SP Online) yang semula dilaksanakan
15 Februari – 31 Maret, menjadi 15 Februari – 29 Mei 2020. Sedangkan Sensus
Penduduk Wawancara (SP Wawancara) mengalami penyesuaian dari 1 – 31 Juli
menjadi 1 – 30 September 2020.
Hal ini dilakukan dengan tujuan
untuk memperbesar cakupan jumlah penduduk yang dapat mengisi SP Online. Dengan
semakin banyaknya penduduk yang berpartisipasi dalam pengisian SP Online
akan mengurangi risiko penyebaran COVID-19 bagi petugas sensus dan atau
masyarakat sebagai responden pada saat pelaksanaan SP Wawancara.
Tantangan
Sensus Penduduk 2020
Ditengah ingar – bingar berita penyebaran
COVID-19 di berbagai media, hastag “MencatatIndonesia” sebagai bagian
dari kampanye Sensus Penduduk 2020 seolah lenyap ditelan Corona. Sejak diumumkan
oleh Presiden Jokowi di awal Maret ada penduduk Indonesia yang positif terjangkit
virus Corona, sontak pamor Sensus Penduduk kian hari semakin tersisihkan,
padahal saat itu sedang berlangsung SP Online.
Hal ini tentu menjadi tantangan
tersendiri bagi BPS pada umumnya. Melaksanakan hajatan sepuluh tahunan ditengah
pandemic COVID-19. Sudah barang tentu situasi ini akan menjadi goresan sejarah
Bangsa Indonesia. Selain metode Kombinasi yang diterapkan pada SP2020, juga
pelaksanaannya bersamaan dengan perang melawan makhluk yang tidak terlihat
kasat mata (virus Corona).
Disatu
sisi, penanganan penyebaran COVID-19 menjadi hal yang sangat urgen saat ini. Seluruh
elemen masyarakat terlibat, regulasi dibuat, bahkan tak sedikit yang menghujat Pemerintah
atas kebijakan yang dibuat. Namun, SP2020 tetap harus berjalan.
Perlu
dibangun sebuah isu kampanye baru agar masyarakat kembali melirik dan tertarik
pada pelaksanaan SP2020. Seperti halnya hastag “diRumahAja” yang
diangkat Pemerintah agar masyarakat tetap berkegiatan di rumah saja dengan
tujuan memutus penyebaran COVID-19, SP2020 pun mesti mencuat kembali ke
permukaan agar masyarakat sadar bahwa saat ini masih berlangsung SP2020
khususnya SP Online.
Hal
ini tentunya perlu kerjasama dan semangat lebih dari setiap elemen di BPS. Disamping
“gempuran” pekerjaan rutin yang tidak mengenal “izin”, SP Online mesti
didorong lebih kuat agar banyak masyarakat berpartisipasi. Selain menyadarkan pentingnya
sebuah data, meminimalkan tatap muka antara petugas SP Wawancara dengan
masyarakat perlu dilakukan ditengah penanganan penyebaran COVID-19.
Bila
rumus Pemodelan COVID-19 yang dibuat oleh BIN dapat menggambarkan kasus
penyakit virus corona secara tepat, maka titik puncak wabah ini terjadi pada
bulan Juli 2020. Maka, setelah bulan Juli grafik kasus COVID-19 mestinya mulai landai
atau menurun, artinya kasus penyakit virus corona mulai berkurang. Tentunya dalam
kondisi seperti ini, masyarkat tetap akan dihimbau untuk beraktifitas di rumah
saja.
Hal
ini menjadi tantangan baru bagi BPS menjelang pelaksanaan Sensus Penduduk
Wawancara yang akan berlangsung pada bulan September. Perlu melatih petugas
lapangan sebelum data dikumpulkan. Mungkin pelatihan daring atau online
perlu dikaji.
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto menyampaikan
dalam koferensi pers bahwa BPS saat ini tengah mengkaji kemungkinan pelatihan online
bagi petugas sensus. Tentunya ini tidak mudah, selain infrastruktur yang harus
memadai, kemampuan petugas sensus dalam menyerap materi perlu dipertimbangkan.
Tidak ada yang mengharapkan
kedatangan tamu tak diundang COVID-19 ditengah hajatan Bangsa Indonesia sepuluh
tahunan, Sensus Penduduk 2020. Tetapi,
virus corona sudah menyebar luas di Negeri ini. Kita tidak bisa tinggal diam
dan hanya menjadi penonton. Dibutuhkan partisipasi aktif dari setiap masing – masing
individu terutama insan BPS di seluruh pelosok Negeri. Selain menjaga diri dari
COVID-19, mari bersama mengambil peran untuk menyebarkan informasi dan mengajak
masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan SP2020 terutama SP Online,
dimulai dari keluarga, tetangga, saudara, sahabat, grup WA, FB, dan media social
lainnya. Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT dan pandemic COVID-19
cepat berlalu. Aamiin.(*)
Sukabumi,
4 April 2020

0 Response to "#61 Sensus Penduduk 2020 diantara Pandemic COVID-19"
Post a Comment